Dankormar: Tindakan Eric Wotulo Tak Terkait Marinir

Dankormar: Tindakan Eric Wotulo Tak Terkait Marinir

- detikNews
Minggu, 01 Okt 2006 18:15 WIB
Jakarta - Eric Wotulo, salah seorang WNI yang ditangkap di AS adalah mantan anggota Marinir. Di jajaran Marinir, pangkat terakhir Eric adalah brigadir jenderal (Brigjen). Kegiatan Eric di AS, tidak ada kaitannya dengan Marinir. "Apa yang dilakukan di Guam, tidak ada kaitan lagi dengan kami, karena beliau sudah purnawirawan," kata Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen (Mar) Safzen Nurdin kepada detikcom, Minggu (1/10/2006). Safzen membenarkan bahwa pangkat terakhir Eric adalah brigjen. Eric lulusan Akmil angkatan 1971 dan berdinas terakhir sebagai Kepala Biro Pengamanan Otorita Batam. "Beliau pensiun tahun 2002, setelah itu, kami tidak tahu lagi, karena beliau menekuni wiraswasta," ujar dia. Saat ditanya di mana Eric sehari-hari tinggal, Safzen tidak tahu persis. "Beliau lebih banyak di Surabaya dan Batam. Di Jakarta, saya kurang tahu," kata dia. Eric ditangkap aparat AS pada Kamis (28/9/2006) lalu di Guam, dengan tuduhan berkonspirasi menyelundupkan senjata untuk kelompok pemberontak Macan Tamil, Sri Lanka. Eric ditangkap bersama 3 WNI lainnya, Haji Subandi (69); Reinhard Rusli (34) dan Helmi Soedirdja (33). Turut dibekuk juga Haniffa Osman (55), warga Singapura dan Thirunavukarasu Varatharasa (36) dari Sri Lanka.Osman, Eric Wotulo and Subandi, dikenai tuduhan berkonspirasi menyediakan dukungan material pada organisasi teroris luar negeri dan pencucian uang. Kantor Kejaksaan AS di Maryland menyatakan bahwa mereka berhubungan dengan pimpinan Macan Tamil, yang oleh AS dicap sebagai organisasi teroris luar negeri. Ketiga orang itu tidak menyadari bahwa mereka telah bernegosiasi dengan agen Imigrasi AS yang menyamar. Mereka ditangkap di Guam setelah membayar uang muka persenjataan yang mereka pesan. Eric Wotulo yang memperkenalkan diri pada agen AS yang menyamar sebagai pensiunan jenderal marinir TNI AL, terlibat negosiasi untuk memesan 9 jenis persenjataan senilai 3 juta dolar AS. (asy/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads