Isak Tangis Korban Warnai Peringatan Bom Bali II
Minggu, 01 Okt 2006 10:42 WIB
Denpasar - Peringatan Bom Bali II 1 Oktober diwarnai isak tangis para korban selamat dari ledakan bom Bali II di Kuta dan Jimbaran. Sekitar 50 korban dan keluarga korban bom Bali menghadiri peringatan tersebut, baik WNI maupun warga Australia.Peringatan tahun pertama Bom Bali II dipusatkan di depan Hotel Intercontinental dan di Pantai Jimbaran. Kedua tempat itu hanya berjarak sekitar 100 meter.Dubes Australia untuk Indonesia Bill Farmer dan para pejabat pemerintah Kabupaten Badung tampak menghadiri acara ini.Para korban menabur bunga di pantai dan di tempat terjadinya ledakan di di depan Cafe Nyoman dan Cafe Menega. Tabur bunga juga dihadiri oleh para karyawan cafe.Suasana haru menyelimuti para korban, mereka meneteskan air mata saat mengucapkan doa untuk keselamatan diri dan keluarga yang ikut menjadi korban. Usai tabur bunga mereka duduk di depan Cafe Nyoman sambil membaca kitab suci.Dari para korban yang hadir tampak Heru Jatmiko, Putu Swadesi dan Farshal Hambali. Mereka mengalami luka di punggung dan leher akibat hantaman serpihan gotri yang melesat dari bom. Saat ini mereka masih mendapat perawatan intensif di RS Royal Darwin Hospital, Australia.Heru Jatmiko mengatakan, ini merupakan masa-masa yang sulit bagi para koban selamat untuk menerima tragedi ini."Saya tidak akan dapat menerima kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Kita di sini bukan untuk mengenang bagaimana mereka wafat, tapi untuk mengenang bagaimana mereka hidup dan memberi kenangan indah dan cinta dalam hidup kita," ujarnya.Sementara itu Bill Farmer menimpali bahwa setiap usaha teroris untuk menyebarluaskan kekacauan dan menghancurkan masyarakat telah gagal."Mereka gagal pada 2002 (Bom Bali I), mereka gagal ketika membom Kedubes Australia tahun 2004, dan mereka gagal pada 2005," ujarnya.Dia yakin Bali akan bangkit sekali lagi dari beban ekonomi dan sosial yang ditimpakan oleh terorisme di pulau yang indah ini."Serangan yang mengerikan di Bali dilakukan oleh orang yang berkhotbah tentang ideologi kebencian yang dipelintir, ideologi yang tidak mendapat tempat di masyarakat kita, yang memuakkan untuk semua agama, dan dikutuk oleh pimpinan agama dan masyarakat Indonesia dan seluruh dunia,' tegas Bill Farmer.
(ddn/nrl)











































