Korban Bom Bali II Tuding Pemerintah Minim Perhatian

Korban Bom Bali II Tuding Pemerintah Minim Perhatian

- detikNews
Minggu, 01 Okt 2006 00:10 WIB
Denpasar - Penyembuhan luka dan psikologis korban bom bukanlah perkara mudah dan murah. Sayang, perhatian pemerintah tidak seperti yang diharapkan. Sikap 'cuek' pemerintah ini disesali para korban bom Bali II.Putu Swadesi, Heru Jatmiko dan Farshal Hambali, korban bom di Kafe Menega pada 1 Oktober 2005 lalu, merasakan hal itu. Mereka malah terang-terangan memuji pemerintah Australia yang justru all out membantu kesembuhan mereka."Dalam hal proses kesembuhan saya, pemerintah Australia sangat perhatian dan peduli. Mereka memberikan pertolongan tidak tanggung-tanggung," ungkap Heru dalam jumpa pers di Hotel Intercontinental, Jimbaran, Bali, Sabtu (30/9/2006).Jumpa pers dilaksanakan terkait acara peringatan satu tahun bom Bali II yang akan digelar di pantai yang letaknya persis di belakang hotel tersebut.Putu, Heru dan Farshal mengalami luka parah dan dilarikan ke Australia untuk perawatan lebih lanjut.Heru mengalami luka cukup parah di bagian punggungnya. Punggung Heru yang kehilangan ibu dan keponakannya dalam pengeboman di Kafe Menega, ditembus 5 butir gotri.Sikap berbeda justru ditunjukkan pemerintah Indonesia. Menurut Heru, saat akan berangkat ke Australia untuk penyembuhan lukanya, dia malah sempat dipingpong ke sana ke mari saat akan meminta keringanan fiskal.Hal senada disampaikan Putu Swadesi yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kediaman Heru. "Kalau pemerintah Indonesia peduli, kenapa saya harus sampai berobat ke Australia," kata Putu yang sempat mengalami lumpuh dan kini menderita gangguan pendengaran.Sementara Farshal mengaku lebih banyak mengiklaskan diri untuk mempercepat proses kesembuhannya. "Saya berharap para pelaku bom Bali dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia dan mereka dihukum seberat-beratnya," kata dia.Kepada wartawan, Putu Swadesi jusa sempat menuturkan, kini dia kehilangan rasa percaya diri. Apalagi setelah dokter memvonisnya tidak akan bisa sembuh total.Akibat gotri yang menancap di leher belakang dan punggungnya, Putu sempat lumpuh dan mengandalkan kursi roda. Namun kini kondisinya sudah lebih baik. Putu sudah bisa berjalan meski masih tertatih-tatih.Putu menuturkan, saat bom meledak, ia sedang menemani keluarga majikannya, Heru Jatmiko, yang saat itu tengah mengadakan pesta makan malam di Menega."Saya merasa sedih dan kecewa dengan apa yang terjadi yang telah membuat saya luka dan tidak percaya diri sampai sekarang ini," tutur Putu.Putu lalu mengucapkan terima kasih kepada keluarga dan pemerintah Australia yang membantu kesembuhannya."Tapi saya sekarang masih sedih karena tidak bisa bekerja kembali seperti dulu. Dan saya berharap dari pihak-pihak mana pun untuk bisa menolong saya agar bisa sembuh dan normal kembali," ujarnya. (umi/bal)


Berita Terkait