Warga Korban Lumpur Tuntut Areal Pemakaman Baru
Sabtu, 30 Sep 2006 23:53 WIB
Sidoarjo -
Ratusan warga Desa Mindi, Kecamatan Porong Sidoarjo menuntut Tim Nasional penanggulangan lumpur Lapindo untuk segera membuatkan makam baru bagi mereka. Karena makam leluhur mereka saat ini telah terendam air lumpur setinggi 50 centimeter.Unjuk rasa yang diikuti sekitar 100 orang ini dilakukan di lokasi penampungan lumpur (Pond 5) Desa Mindi, Sabtu (30/9/2006).Permintaan areal pemakaman baru kepada timnas ini sekaligus sebagai tanda penolakan mereka terhadap rencana timnas dan pemerintah yang akan merelokasi warga karena daerah mereka masuk dalam segitiga kawasan rawan bencana."Kita minta timnas segera membuatkan areal pemakaman baru sesuai dengan makam yang telah ditenggelamkan lapindo, karena kita menolak rencana relokasi yang mereka tawarkan," kata Tokoh Masyarakat Desa Mindi, Ahmad Rofi'i.Sementara itu menanggapi rencana relokasi bagi masyarakat korban lumpur, wargameminta agar pemerintah secepatnya melakukan sosialisasi tentang rencana tersebut.Menurut mereka, apabila pemerintah tidak secepatnya melakukan sosialisasi, wargakhawatir rencana sosialisasi tersebut malah akan semakin membuat panik mereka."Kita ingin tahu langsung dari pemerintah mengenai rencana sosialisasi tersebut.Karena selama ini kita tahunya hanya lewat koran," ungkap Sumiati warga RT 13 Rw 4 Desa Mindi."Jangan-jangan daerah baru tersebut tidak sesuai dengan keinginan warga. Kita maunya daerah baru yang dijadikan tempat relokasi sesuai dengan tempat tinggal kita saat ini atau diberikan ganti untung agar kita bisa pindah dari tempat ini secepatnya," harapnya.Selain menuntut masalah tempat tinggal yang sesuai dengan keinginan mereka, warga juga mengharapkan nantinya pihak lapindo memberikan ganti rugi terhadap mereka. Karena selama ini kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar semburan lumpur Lapindo tidak bisa hidup dengan tenang.Mereka selalu khawatir apabila tanggul-tanggul penahan lumpur yang berada disekitar tempat tinggal mereka akan jebol sewaktu-waktu dan meneggelamkam pemukiman mereka."Takut tanggul jebol sewaktu-waktu, kita tiap malam harus bergantian berjaga-jaga agar kalau tanggul jebol kita bisa secepatnya menyelamatkan diri dan mengungsi," ungkap Sumiati.
(bal/bal)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































