Habibie-Prabowo, Baiknya Diselesaikan Secara Intelektual

Habibie-Prabowo, Baiknya Diselesaikan Secara Intelektual

- detikNews
Sabtu, 30 Sep 2006 08:55 WIB
Jakarta - Perseteruan antara BJ Habibie dan Prabowo Subianto terus bergulir. Kedua belah pihak berkeras pada pendapatnya masing-masing. Namun dinilai solusi yang tepat bagi persoalan ini adalah masing-masing pihak saling mengadu fakta."Prabowo harus membantahnya dengan tulisan, fakta lawan fakta, interpretasi lawan interpretasi. Ini cara intelektual, nanti biar ahli sejarah yang menentukan dan masyarakat yang memberikan penilaian," kata pengamat politik Arbi Sanit, kepada detikcom di Jakarta, Sabtu (30/9/2006).Menurut dia, persoalan ini dapat menjadi lonceng bahwa sudah saatnya orang Indonesia untuk mengungkapkan fakta peristiwa lewat tulisan. "Sebab itu jangan ada yang ikut campur, biarkan diselesaikan melalui tulisan pula. Kita sebagai intelektual tidak boleh memihak," urainya.Arbi juga menyatakan bahwa tidak perlu diadakan pertemuan antara Habibie dan Prabowo untuk menjernihkan persoalan ini, yang mendesak justru agar Prabowo segera mengungkapkan fakta kejadian itu seperti versinya. "Apa yang dilakukan Habibie sudah benar, fakta benar atau tidak kita lihat pendapat ahli sejarah. Buku harus dibantah dengan buku, ini kuncinya," tandasnya.Mantan Presiden Prof Ing BJ Habibie telah berkisah panjang mengenai peralihan kekuasaan Presiden Soeharto kepada dirinya lewat buku 'Detik-detik yang Menentukan'.Buku Habibie telah membuat mantan Pangkostrad Letjen (Purn) Prabowo Subianto panas. Sebab, dalam buku itu, Prabowo ditulis pernah marah kepada Habibie saat akan dicopot sebagai Pangkostrad. Bahkan, dalam pertemuan di Istana, Prabowo sempat berkata kasar kepada Habibie. Dalam buku itu, juga dituliskan adanya ancaman kudeta terhadap Habibie saat Prabowo mengerahkan pasukannya ke sekitar kediaman Habibie dan Istana.Prabowo membantah tulisan Habibie itu. Dia juga telah menegaskan bahwa dirinya tidak pernah akan mengkudeta Habibie. Pengerahan pasukan ke Kuningan, Jakarta, dan Istana/Monas hanyalah untuk mengamankan Habibie. (ndr/ndr)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait