Detik-detik Peralihan Soeharto ke Habibie Versi Amien Rais

Detik-detik Peralihan Soeharto ke Habibie Versi Amien Rais

- detikNews
Jumat, 29 Sep 2006 14:56 WIB
Detik-detik Peralihan Soeharto ke Habibie Versi Amien Rais
Jakarta - Mantan Presiden Prof Ing BJ Habibie telah berkisah panjang mengenai peralihan kekuasaan Presiden Soeharto kepada dirinya lewat buku 'Detik-detik yang Menentukan'. Bagaimana versi Amien Rais, salah seorang tokoh yang sempat akan menggelar aksi massa sehari sebelum Soeharto mundur, mengenai hal itu? Buku Habibie telah membuat mantan Pangkostrad Letjen (Purn) Prabowo Subianto panas. Sebab, dalam buku itu, Prabowo ditulis pernah marah kepada Habibie saat akan dicopot sebagai Pangkostrad. Bahkan, dalam pertemuan di Istana, Prabowo sempat berkata kasar kepada Habibie. Dalam buku itu, juga dituliskan adanya ancaman kudeta terhadap Habibie saat Prabowo mengerahkan pasukannya ke sekitar kediaman Habibie dan Istana. Prabowo membantah tulisan Habibie itu. Dia juga telah menegaskan bahwa dirinya tidak pernah akan mengkudeta Habibie. Pengerahan pasukan ke Kuningan, Jakarta, dan Istana/Monas hanyalah untuk mengamankan Habibie. Bagaimana kesaksian Amien soal ini? Di saat detik-detik kejatuhan Soeharto, Amien Rais merupakan tokoh yang paling sering muncul di media massa. Saat itu, Amien yang menjadi Ketua PP Muhammadiyah, merupakan tokoh yang paling vokal dan meminta Soeharto mundur. Bahkan, Amien sempat akan menggelar aksi sejuta massa di Monas pada 20 Mei 1998, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Tapi, Amien membatalkan acara itu, karena Monas sudah dijaga ketat pasukan Kostrad. Amien membenarkan pasukan Kostrad memang diterjunkan ke Monas dan Kuningan. Penerjunan pasukan Kostrad ini memang sempat memunculkan kesalahpahaman, seolah-olah akan terjadi kudeta. Tapi, Habibie dan Prabowo sudah bertemu dan bersalaman, kasus itu pun sebenarnya sudah clear. Berikut penuturan Amien Rais selengkapnya saat ditemui detikcom di rumahnya, di Jl. Taman Gandaria, Jakarta Selatan, seusai salat Jumat: Buku Habibie 'Detik-detik yang Menentukan' menjadi kontroversi, Prabowo membantah apa yang ditulis Habibie. Bagaimana menurut Anda? Saya belum baca buku itu, saya tidak tahu persis. Tapi, saat peralihan kekuasaan, benarkah ada pasukan Kostrad yang mengepung Istana? Pasukan itu di bawah kendali siapa? Tentu di bawah Prabowo. Yang saya tahu, setelah terjadi kesalahpahaman itu, dua hari setelah itu, saya ketemu Habibie di Kuningan, di kediamannya. Pak Habibie cerita bahwa Pak Prabowo memang pergi ke Kuningan ketemu Pak Habibie, kemudian terjadi dialog. Saya tidak persis ingat. Yang pasti, Pak Habibie mengingatkan Pak Prabowo kalau presiden adalah panglima tertinggi. Jadi mohon diingat bahwa dalam hierarki kepemimpinan militer, maka panglima tertinggi betul-betul tertinggi dalam memberi keputusan, yang menyangkut TNI sendiri. Jadi, saat itu, apakah memang ada pembangkangan Prabowo, sehingga Habibie harus menjelaskan bahwa panglima tertinggi adalah presiden? Ya waktu itu, begitu. Lantas masih dalam suasana carut marut, Pak Habibie bilang: Mas Amien, Prabowo seorang perwira yang benar-benar taat dengan aturan komando. Setelah saya ingatkan, dia menjabat tangan saya, kemudian jadi clear saya. Begitu kata Pak Habibie. Prabowo datang, terjadi dialog, dan Habibie mengatakan, Pak Prabowo saya ini panglima tertinggi, saya ini atasan saudara. Setelah itu, salaman dan semua clear. Mengenai bantahan Prabowo bahwa saat itu akan ada kudeta?Ya untuk memecahkan misteri ini, itu adalah kesalahpahaman. Beberapa panser yang bergerak ke sana ke mari, itu memang pasukan Kostrad, akan mengepung Habibie atau istana. Sementara Prabowo sendiri tidak meyakini hal itu, atau membantah. Saya kira untuk menafsirkan fakta sejarah ini, memang betul ada pasukan yang bergerak. Cuma, menurut Prabowo, itu bukan untuk kudeta, tapi untuk pengamanan kota yang rawan. Saya kira, begitu saja. Pengerahan pasukan di Monas saat itu, di bawah kendali siapa?Saya tidak tahu. Yang pasti, itu dari baret hijau. Ketika saya mau tidur, adik-adik mahasiswa yang mengikuti saya, membangunkan ada telepon dari Mabes TNI. Saya sudah lupa siapa persisnya. Tapi, suara dari seberang mengatakan bahwa Mabes TNI mengingatkan saya jangan nekat menggelar semacam people power. Yang menelepon saya dari Mabes TNI, bukan Kodam Jaya atau Kostrad. Saya diingatkan, kalau (saya) nekat, kejadian seperti Tiananmen bisa saja terjadi. Kemudian, saya langsung meninjau lapangan. Memang benar, bahwa di Monas, semua pintu sudah dijaga aparat dan kawat berduri. Kemudian, saya mengambil kesimpulan, aksi massa urung saya lakukan, dan saya sebar info ini. Kemudian Ibu (istri Amien) protes: Bagaimana ini? Yogya sudah siap melakukan hal yang sama, kok malah tidak jadi. Kemudian saya jawab, pokoknya saya tidak bisa menjelaskan sekarang. Yang jelas, ini harus dibatalkan. Kemudian, pada tanggal 20 Mei, adik-adik mahasiswa yang berjumlah puluhan ribu orang ada di gedung DPR/MPR. Saya bersama Adnan Buyung Nasution dan teman-teman lainnya ada juga di sana memimpin aksi. Kemudian, ada telepon dari Yusril mengabarkan dan bertanya kepada saya, Pak Amien, bagaimana kalau Pak Soeharto turun, kemudian diganti oleh Habibie, apakah Pak amien cocok? Saya jawab, memang sudah begitu aturan konstitusi. Akhirnya, suksesi terjadilah. (asy/nrl)


Berita Terkait