Jika Tarif Sesuai Jarak Mahal, Penumpang Tinggalkan Busway
Jumat, 29 Sep 2006 11:25 WIB
Jakarta - Rencana kenaikan tarif tiket bus Transjakarta/Transbatavia yang beken dengan sebutan busway mendapat penolakan sejumlah penumpang. Tarif dinilai belum layak naik karena pelayanan belum memuaskan. Jika tarif disesuaikan jarak, penumpang tidak masalah. Tapi jika kemahalan ya beralih ke angkutan lainnya."Belum saatnya naikin tarif, soalnya pelayanannya masih kurang bagus. Kalau siang-siang lama nunggu busway, selalu penuh. Turunnya juga susah kalau penuh, mungkin bagusnya ada dua pintu untuk keluar masuk," kata Jeffrey (45), penumpang busway jurusan Kota-Blok M kepada detikcom di jembatan Benhil, Jakarta, Jumat (30/9/2006).Mengenai tarif busway akan disesuaikan jarak, warga Bekasi ini mengaku tidak keberatan."Mungkin lebih baik, kalau jaraknya yang dekat, bisa lebih murah. Tetapi kalau justru lebih mahal, mungkin saya akan cari alternatif lain. Sistem jarak itu belum tahu nantinya seperti apa. Sebelum ada busway saya naik Mikrolet 44, mungkin bisa jadi alternatif lainnya walau memang macet," terangnya.Hengky (24), penumpang busway dari Dukuh Atas ke Senayan juga menolak kenaikan tarif busway."Jangan naik (tarifnya), kacaulah. Mereka yang bikin usul kenaikan, nggak pernah naik busway, ya mana tau. Yang naik kan orang biasa kayak kita," ujar Hengky.Ketika ditanya rencana tarif busway disesuaikan jarak, Hengky akan melihat sistemnya dulu. "Kalau jadi malah mahal, saya akan naik bus biasa," cetusnya.Hal senada disampaikan Subur, penumpang busway dari Masjid Agung ke BI."Saya tidak masalah tarif sesuai jarak, asalkan tarif busway jangan dinaikkan," kata Subur.Tarif busway akan dinaikkan jika DPRD DKI Jakarta memangkas alokasi anggaran senilai Rp 100 miliar dari Rp 230 miliar untuk pengoperasian armada busway pada perubahan anggaran (Anggaran Belanja Tambahan) tahun 2006.Sedangkan tarif sesuai jarak dilakukan untuk meningkatkan pendapatan Pemprov DKI dari penjualan tiket. Sebab, selama ini Pemprov harus menanggung subsidi yang tinggi untuk setiap penumpang. Tahun 2006, subsidi Rp 2.300/penumpang. Padahal tahun lalu hanya Rp 150/penumpang.
(aan/nrl)











































