Tanggapi Buku Habibie
Prabowo: Untung Saya Masih Hidup
Kamis, 28 Sep 2006 17:19 WIB
Jakarta - Mantan Pangkostrad Letjen TNI Purn Prabowo merasa beruntung masih hidup sampai saat ini. Dengan demikian dia bisa meluruskan apa yang ditulis mantan Presiden Habibie tentang dirinya dalam buku "Detik-detik Yang Menentukan".Prabowo menilai tudingan mengenai dirinya akan melakukan kudeta merupakan hal yang sangat keji. Namun demikian, dia menyadari hal itu lazim dialami seorang prajurit. Hal serupa juga dialami oleh pahlawan revolusi Jenderal Ahmad Yani."Masih untung saya hidup, sehingga bisa memberikan penjelasan," kata Prabowo di kantornya lantai 10 Gedung Bidakara, Jl Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (28/9/2006).Meski demikian, Prabowo tetap mengaku tak enak hati karena tudingan itu tertuang dalam sebuah buku. Jika tidak diluruskan, generasi yang akan datang menganggap semuanya benar."Kalau dikatakan dalam buku, saya khawatir nanti generasi penerus, generasi muda menganggap ini benar. Prabowo tidak berpendidikan, tidak berbudi, tidak santun, brangasan, haus kekuasaan, dan mau kudeta. Itu kan suatu tuduhan yang sangat kejam bagi seorang prajurit," cetus Prabowo.Putra begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo ini mengaku awalnya enggan menanggapi buku tersebut. Sebab bagi dia, Habibie adalah sosok yang sangat dihormati. Namun keadaan kemudian berbicara lain. Ada desakan dari berbagai pihak agar dirinya segera buka mulut.Di sisi lain, Prabowo khawatir masyarakat akan menilai semua ini benar jika dia diam saja. Belum lagi media massa yang terus mengejar-ngejar dirinya. Karena itu, prinsip Jawa sing becik ketitik sing olo ketoro (yang baik akan muncul, yang culas akan tampak) terpaksa ditinggalkannya."Biar anjing menggonggong khafilah tetap berlalu. Tapi di zaman modern sikap seperti ini tidak laku. Kalau kita diam, kita dianggap membenarkan. Sebetulnya saya tidak mau menjawab, tapi terpaksa," ujar bekas menantu mantan Presiden Soeharto ini.Menurut Prabowo, yang sebenarnya terjadi adalah dia ingin menyelamatkan reformasi yang konstitusional. Saat itu situasi tegang, banyak pihak yang tidak menginginkan Habibie menggantikan Soeharto."Untuk membuktikan itu, saya menggalang dukungan dengan bertemu 44 tokoh ormas di Jl Suwiryo. Dukungan itu saya serahkan kepada Pak Habibie. Kok besoknya dituduh mengepung istana dan melakukan tindakan indisipliner. Ini kan ironis," tandas Prabowo.
(djo/sss)











































