Tidak Putus Asa Mencari Widari

Kisah Mahasiswa Orla di Kuba (3)

Tidak Putus Asa Mencari Widari

- detikNews
Rabu, 27 Sep 2006 10:54 WIB
Tidak Putus Asa Mencari Widari
Havana - Sejak tahun 1960-an, Widodo Soewardjo telah meninggalkan Indonesia menuju Rusia untuk mengenyam pendidikan sarjana di bidang teknik metalurgi. Terpaksa, dia harus meninggalkan kekasihnya di Indonesia. Hingga kini, meski usianya sudah mencapai 66 tahun, Widodo masih merindukan Widari Soewahjo. Di mana Widari? Widodo tidak mengetahui persis alamatnya saat ini. Nasib Widari hingga kini juga tidak diketahuinya, karena komunikasi dengan kekasihnya itu sudah putus berpuluh-puluh tahun. Namun, Widodo mencoba untuk konsisten hingga kini. Pria kelahiran Mojoagung, Jombang, 2 September 1940 ini tetap melajang hingga kini. Mengapa? Karena sebelum meninggalkan Indonesia, Widodo sudah berjanji akan menikahi Widari, satu-satunya gadis yang dicintainya saat itu. Perempuan kelahiran 19 April 1944 ini pun berjanji untuk selalu menunggu kehadiran Widodo kapan pun. Tahun 2001 lalu, saat Widodo berkesempatan mengunjungi Indonesia selama 3 bulan, Widodo telah berusaha untuk menemui Widari di alamatnya yang lama. Dia harus mencari Widari, karena selama 40 tahun terakhir ini, dirinya memendam pertanyaan-pertanyaan mengenai keberadaan Widari dalam benaknya. Sebenarnya, Widodo sempat bertemu dengan Widari di Paris, Prancis pada Agustus tahun 1965. Pada saat itu, Widodo studi di Rusia, Widari melanjutkan studi bidang filologi di Prancis. Siapa yang menyangka bahwa pertemuan di Paris itu adalah pertemuan terakhir mereka, karena 30 hari kemudian terjadi peristiwa 30 September 1965 yang membuyarkan rencana yang telah mereka rancang.Peristiwa itu membuat kondisi politik menjadi tidak pasti, sehingga Widodo dan rekan-rekan senasib tidak dapat kembali ke tanah air, dengan dicabutnya paspor Indonesia mereka. Widodo dan Widari pun kehilangan kontak. Hingga pada tahun 1966, ketika Widari telah kembali ke Jakarta, Widodo pun mengirimkan surat yang berisi pernyataan keikhlasannya untuk merelakan Widari menikah dengan pria yang dijodohkan keluarganya. "Saya nggak mau menyengsarakan orang lain, karena dia (Widari) punya 3 saudara wanita, ada tradisi adiknya belum kawin kalau kakaknya belum kawin. Dia juga sudah berumur 23 tahun. Saya sampaikan pada saat itu, saya belum tahu kapan akan pulang. Saya tidak bisa memutuskan," kisah Widodo dengan mata yang berkaca-kaca dan pandangan yang menerawang jauh ke masa lalu, saat ditemui detikcom di apartemennya yang sangat sederhana di daerah Playa, kota Havana, pada pertengahan September 2006 lalu. Widodo sangat berkeinginan untuk suatu saat dapat mengetahui kabar dan keberadaan dari Widari. "Maksud saya itu supaya saya tahu saja, salam untuk keluarganya. Supaya bahagia. Mungkin sudah punya putra dan cucu. Waktu saya pulang (tahun 2001 ) saya juga berusaha kontak. Tapi nggak ketemu. Tanya teman-teman lama sudah tidak bisa dicari. Dan waktunya pendek, hanya 3 bulan. Saya yang hubungi teman pejabat yang dulu teman dekatnya. Tapi ternyata tidak bisa," kata Widodo.Saking menggebunya untuk mencari Widari pada tahun 2001 itu, Widodo sampai nekat naik bus jurusan Blok M dengan harapan bisa berpapasaan di jalan. "Sampai saya berpikir ambil bus ke Blok M, siapa tahu ketemu disana. Tapi saya juga nggak tahu rupanya lagi, lha terakhir ketemu di Paris (Agustus 1965 )," kata Widodo yang fasih berbahasa Rusia, Spanyol, dan Inggris ini.Alamat Widari yang diketahuinya terakhir kali adalah di Kebayoran Baru. "Ayahnya bernama Pak Soewahjo, dulu tinggal di Jalan Salemba no 4, dulu ada namanya soda Garam Negeri. Dari Salemba pindah ke Jalan Cikini, dekat bioskop Garden Hall yang sekarang menjadi TIM," kata Widodo mencoba mengenang. Widari yang dicarinya ini merupakan sulung dari 4 perempuan. Empat anak perempuan di keluarga Soewahjo itu bernama Widari, Widati, Winarni, dan yang terakhir Widodo hanya ingat nama panggilannya Yayuk, dan keluarga Soewahjo ini dari Solo, Boyolali. Widodo mengaku sangat ingin mengetahui kabar dan keberadaan dari Widari mantan kekasihnya itu, hanya untuk menyampaikan bahwa dirinya bukan laki-laki yang tidak bertanggung jawab, dan berniat lari dari janji yang telah terucap. "Saya minta supaya tidak salah paham. Supaya tahu bahwa saya sudah ikhlas. Saya akan bahagia kalau dia sudah beranak cucu. Jangan punya persepsi bahwa saya ini dulu nggak bertanggung jawab. Karena kadang-kadang saya merasa gak enak," kata dia. "Saya yakin kalau sudah berkeluarga, beranak cucu, baik. Nggak ada ilusi ingin kembali. Hanya kekeluargaan, ingin tahu kabarnya bagaimana, dan mengharapkan supaya bahagia," tegas Widodo. Widodo sangat berharap agar pertanyaan yang menggelayut di benaknya selama 40 tahun terakhir ini bisa tuntas terjawab. Karena surat terakhir yang dikirimkan kepada Widari yang telah pulang ke Jakarta pada tahun 1966 itu, tidak pernah berbalas. Apakah surat tersebut sampai atau tidak, dia tidak tahu. Tapi, kalau sampai di tangan Widari, Widodo mempertanyakan mengapa kok tidak berbalas.Upayanya dalam mencari tahu keberadaan Widari, tidaklah surut. Untuk itu Widodo berharap agar pembaca detikcom yang mengetahui informasi mengenai Widari Soewahjo dapat menghubunginya melalui email: widodo@magcime.cu. (asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads