Kisah Muallaf Tionghoa
Menjadi Muslim Gara-gara Mimpi
Rabu, 27 Sep 2006 09:52 WIB
Jakarta - Masjid Lau Tze yang berada di kawasan Pecinan, Pasar Baru, Jakarta Pusat, dikenal sebagai tempat berkumpulnya komunitas Tionghoa yang memeluk Islam. Mereka masuk Islam dengan kisah-kisah yang berbeda. Naga Kunadi (30), misalnya, mengaku menjadi muslim karena mimpi. Dia juga sempat mendapat perlawanan dari anggota keluarganya. Namun, Naga Kunadi tetap pada pendiriannya. Dan hingga kini, Kunadi tetap konsisten dengan pilihan imannya ini. Setiap hari Minggu, dia mengikuti Cermin alias ceramah mingguan di Masjid Lau Tze. "Saya mimpi tiba-tiba ada di sebuah tanah lapang yang di sekelilingnya terdapat api panas dan terasa saat terbangun dari mimpi," kata Kunadi saat ditemui detikcom di kediamannya, yang berdekatan dengan Masjid Lau Tze, Jalan Lau Tze, Jakarta Pusat, Rabu (27/9/2006).Sebenarnya, kata dia, sejak bersekolah di SMA, bibit ketertarikannya terhadap Islam sudah muncul. "Saat masih di SMA, saya tertarik membaca terjemahan Alquran," ujar Kunadi yang 4 bulan lalu terkena flek paru-paru, sehingga terpaksa berhenti dari tempatnya bekerja selama ini.Kunadi yang awalnya beragama Khonghucu, pada 1998 tertarik untuk mencoba masuk Islam. Namun pada 2002 dia mengakui sempat mengucapkan syahadat ulang. "Saat saya masuk Islam pada 1998. Tapi saya merasa ikut aliran yang dianggap sesat. Nah pada 2002 saya bergabung dengan komunitas Tionghoa muallaf di Lau Tze dan mengucapkan syahadat ulang," jelasnya.Di masjid Lau Tze inilah, Kunadi bertemu dengan para muallaf. "Kami setiap minggu pada acara Cermin atau ceramah mingguan selalu meluangkan waktu berkumpul dengan sesama Tionghoa yang muallaf," kata Kunadi. Menurut Kunadi, muallaf Tionghoa yang berkumpul itu tidak hanya dari sekitar masjid, tapi juga dari daerah lain di DKI Jakarta.
(san/asy)











































