KSAU: Tak Akan Beli Pesawat Baru Hingga 2009

KSAU: Tak Akan Beli Pesawat Baru Hingga 2009

- detikNews
Rabu, 27 Sep 2006 07:20 WIB
Jakarta - Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Herman Prayitno menegaskan pihaknya tidak akan membeli pesawat baru hingga tahun 2009. Saat ini TNI AU lebih memprioritaskan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan (retropit) pesawat yang ada menjadi laik terbang dari segi usianya. "Untuk jangka waktu dekat sampai 2009, kita hanya akan meningkatkan kemampuan pesawat, tapi tidak menambah pesawat baru," kata Herman Prayitno usai buka puasa bersama di Puri Ardhya Garini, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Selasa (26/9/2006) malam. Menurut Herman, pesawat yang akan ditingkatkan kemampuannya (retropit) lebih diprioritaskan kepada pesawat angkut seperti Hercules. Menurutnya ada 9 pesawat Hercules yang sebenarnaya dari segi usia tidak bisa dipakai lagi. Dengan diretropit, usia pesawat tersebut bisa ditingkatkan menjadi hingga 15 sampai 20 tahun. Retropit ini juga akan melibatkan sejumlah perusahaan lainnya, namun menurut Herman, bagian ini merupakan urusan Departemen Pertahanan (Dephan). TNI AU hanya menyiapkan spesifikasi teknis yang dibutuhkan dan sucu cadang apa yang dibutuhkan. Sementara terkait rencana pembelian pesawat latih/tempur L-159 buatan Ceko sebagai pengganti pesawat latih/tempur Hawk MK-53 buatan Inggris. Menurut Herman, hingga kini pihaknya masih mengkaji rencana tersebut. "Semua masih kita kaji, apakah pesawat jenis L-159 itu dapat mengganti MK-53 atau pesawat Hawk lainnya yang kita punya saat ini. Jadi belum final," jelas Herman. Saat ini ada tim yang melakukan pengkajian untuk menentukan pilihan mana yang akan diambil untuk mengganti pesawat latih dan tempur yang saat ini dimiliki, yaitu OV-10 Bronco, Hawk MK-53, F-5 Tiger dan F-16 Fighting Falcon. Tim ini juga akan mengkaji dari berbagai aspek seperti budget, dukunngan suku cadang, kemampuan pesawat, persenjataannya, termasuk tentang kemungkinan diembargo atau tidak. "Nanti ini akan kita pikirkan, kita akan lihat di Korea, Cina dan negara mana saja," ujar Herman. (zal/zal)


Berita Terkait