Masjid Lau Tze Mengislamkan 700 Muallaf
Selasa, 26 Sep 2006 13:42 WIB
Jakarta - Tidak banyak orang yang mengenal masjid Lau Tze di daerah Pecinan, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Padahal masjid itu menyimpan sejumlah sejarah bagi warga keturunan Cina yang memeluk agama Islam."Masjid ini sudah sejak 1997 sampai sekarang telah mengislamkan 700 orang, di mana 90 persen lebih keturunan Cina. Kami sangat menyayangkan selama ini pemerintah kurang perhatian dengan muallaf," kata Humas Masjid Lau Tze Yusman Iriansyah kepada detikcom di Masjid Lau Tze, Jalan Lau Tze, Jakarta Pusat, Selasa (26/9/2006).Dia menambahkan, rukun Islam antara lain haji, zakat, salat, dan puasa umumnya mendapat perhatian dari pemerintah, sedangkan untuk para muallaf berkenaan dengan pengucapan syahadat tidak ada perhatian.Kegiatan masjid ini pada Ramadan tidak begitu mencolok. Semua kegiatan dipusatkan pada hari Minggu. Di luar hari Minggu, masjid hanya melayani pengunjung dari pukul 09.00 WIB hingga habis salat Ashar. Sedangkan salat tarawih hanya dilakukan pada hari minggu."Di masjid ini kegiatan Ramadan hanya hari Minggu untuk buka bersama. Justru di luar hari minggu pengurus diundang ke tempat lain," kata Yusman.Meski demikian, di luar bulan Ramadan, kegiatan Masjid Lau Tze cukup banyak, seperti kajian keislaman yang dilakukan setiap hari Minggu dengan nama Cermin atau ceramah mingguan yang berupa pengajian, tukar pikiran, pembelajaran teknis salat dan lainnya.Sejarah beridirinya masjid ini berawal pada April 1991. Saat itu sejumlah tokoh dari Muhammadiyah, NU, Al Washliyah, KAHMI, ICMI, dan muslim keterunan Cina mendirikan Yayasan Haji Karim Oei. Nama itu diambil untuk mengenang perjuangan Haji Abdul Karim Oei Tjeng Hien yang berjasa melakukan penyebaran agama Islam di kalangan keturunan Cina.Haji Abdul Karim Oei adalah tokoh yang pada 1938 pernah menjadi Ketua Muhammadiyah Bengkulu. Pernah juga menjadi pengurus Masyumi dan pernah mendapat tawaran sebagai anggota MPR di masa Soekarno.Pada 2005 lalu, Oei mendapat bintang kehormatan dari Presiden SBY sebagai tokoh pergerakan Islam.Dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, masjid ini mengandalkan sumbangan dari para donatur. Sejumlah lembaga pun memberikan bantuan seperti dewan dakwah dan dewan masjid DKI Jakarta yang menyumbangkan buku untuk koleksi perpustakaan.Masjid yang bagian depannya lagi direnovasi ini, memang sekilas tidak tampak sebagai masjid karena awalnya memang merupakan ruko. Bangunan ini terdiri dari 4 lantai, lantai 1 dan 2 untuk tempat salat, lantai 3 untuk sekretariat, dan lantai 4 untuk pertemuan.Yang menarik dari masjid ini adalah corak Cinanya yang kentara, yakni didominasi warna merah. Warna itu terlihat jelas mulai dari pintu, jendela, tangga, dan karpet. Selain itu kaligrafi syahadat juga terukir seperti huruf Cina.
(san/asy)











































