NTT Membara karena Aparat Gagal Deteksi Potensi Kerusuhan
Senin, 25 Sep 2006 17:39 WIB
Jakarta -
Menko Polhukam Widodo AS mengakui aparat keamanan gagal mendeteksi potensi rusuh pasca eksekusi mati Tibo Cs. Akibatnya anarkisme di Maumere dan Atambua terlambat diantisipasi."Mestinya harus terdeteksi. Mesti diantisipasi. Ked epannya biar proses hukum, biar aparat hukum melakukan itu semua," papar Widodo, di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, Senin (25/9/2006). Hal tersebut disampaikannya menjawab pertanyaan para wartawan yang mencegatnya usai rapat terbatas bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kurangnya antisipasi di lapangan, ditunjukkan dari kasus penyerbuan massa ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) setempat. Kurangnya aparat di lapangan menyebabkan dua ratusan orang narapidana yang ditahan di LP itu berhasil melarikan diri. Saat ini puluhan di antara mereka yang dipaksa melarikan diri itu telah menyerahkan diri kembali ke LP dan sisanya masih dalam pengejaran. Suasana di dua kota utama NTT itu pun kini kembali kondusif. Lebih lanjut, Menko Polhukam memastikan, lima orang yang ditangkap karena diduga sebagai dalang kerusuhan akan dikenai proses hukum. Aparat keamanan sama sekali tidak akan memberi toleransi bagi mereka."Sudahlah, kalau masalah pelanggaran hukum jangan dibiarin dong. Jangan tolerir dong, biar tindakan hukum berjalan," ujar dia.
(lh/asy)










































