Korban Gempa Tunaikan Ibadah Ramadan di Tenda

Korban Gempa Tunaikan Ibadah Ramadan di Tenda

- detikNews
Senin, 25 Sep 2006 14:38 WIB
Bantul - Sebagian besar warga Bantul yang menjadi korban gempa melaksanakan rangkaian ibadah puasa di tenda. Mereka melaksanakan salat tarawih, salat subuh dan salat wajib lainnya juga di masjid darurat yang hanya beratap tenda plastik maupun tenda terpal dengan dinding gedhek. "Tidak hanya rumah, masjid kami juga nyaris roboh dan sudah miring sehingga tidak bisa dipakai lagi," kata Basri (45), warga Desa Bawuran, Kecamatan Pleret, Bantul, Senin (25/9/2006).Untuk pelaksanaan salat, menurut dia, warga mendirikan masjid darurat menggunakan tenda plastik dan gedhek bambu di salah satu halaman kosong milik warga setempat. Tempatnya, tidak jauh sekitar 150 meter dari masjid lama Al Barokah. Menurut dia, setelah gempa hingga bulan puasa ini, semua kegiatan umat Islam di Desa Bawuran dipusatkan di masjid darurat tersebut. Tenda yang dipasang hanya tenda peleton terpal disambung tenda plastik. Alas masjid darurat menggunakan tikar plastik dan karpet yang masih tersisa. Penerangan juga menggunakan listrik seadanya yang cukup untuk menghidupkan beberapa buah lampu penerangan dan pengeras suara. Tenda seluas 50-an meter persegi itu dapat menampung sekitar 100-an orang jamaah pria dan wanita. Bila tidak tertampung, sebagian warga terpaksa salat di luar tenda beralas tikar yang sudah disediakan takmir. Sedang untuk anak-anak, salat tarawih dipisah dan menempati salah satu rumah warga. "Kami salat tarawih, salat Jumat atau kegiatan takjilan hingga tadarusan juga di tempat itu," katanya.Meski sudah ada donatur yang bersedia merehab dan membangun kembali masjid Al Barokah, namun hingga kini belum dilakukan. Selama ini, warga tidak berani berkegiatan di dekat masjid yang sudah rusak dan miring beton konstruksinya, karena takut sewaktu-waktu akan roboh. "Dulu masjid itu jadi kebanggaan kami, karena dibangun secara swadaya hingga menjadi masjid yang megah waktu itu," kata dia. Dalam menghadapi bulan suci ini, warga mengaku tidak nglokro atau patah semangat. Justru, mereka merasa imannya kuat untuk bangkit kembali. Biasanya, saat salat tarawih dan buka puasa, juga dipenuhi jamaah karena warga sebagian besar sudah kembali dari bekerja."Kondisi warga sama, tidak punya rumah tapi mereka tidak larut, sebagian sudah ada yang membangun rumah dengan bahan seadanya. Bahkan, untuk memasak saat sahur dan buka puasa masih ada yang dilakukan di luar rumah," katanya.Sementara itu sebagian warga Dahromo, Desa Segoroyoso, Pleret mengaku tidak berani meninggalkan tenda atau rumah untuk salat tarawih di musala atau masjid desa setempat. Mereka khawatir dan takut harta benda yang masih tersisa saat ini akan digasak pencuri. Mereka memilih salat tarawih dirumah sehingga masjid dan mushala tidak banyak didatangi warga. "Daripada kemalingan seperti beberapa hari setelah gempa, lebih baik tarawih di rumah saja. Tidak semua keluarga salat di masjid," kata Martopo warga Dahromo kepada detikcom, Senin (25/9/2006).Menurut dia, beberapa hari sebelum bulan puasa tiba, warga sudah bekerja bakti memperbaiki masjid yang rusak. Perbaikan, antara lain, dengan memasang tiang penyangga dari bambu untuk teras dan serambi masjid. Tembok ruang utama yang retak dan genting yang pecah sudah disemen dan diganti. Sedang sumur tempat air wudhu belum dibersihkan, karena sejak gempa sampai sekarang masih keruh airnya. "Atap pakai tenda plastik dan listrik juga sudah menyala sehingga warga dapat khusuk beribadah," kata dia. (bgs/asy)


Berita Terkait