Warga Desa Yakin Thaksin Akan Kembali Jadi PM

Warga Desa Yakin Thaksin Akan Kembali Jadi PM

- detikNews
Jumat, 22 Sep 2006 14:03 WIB
Bangkok - Di mata para pendukungnya, Perdana Menteri (PM) terguling Thailand, Thaksin Shinawatra tetap merupakan figur mengagumkan. Warga Desa San Kamphaeng, Thailand utara, tempat Thaksin tumbuh dan dibesarkan sangat terkejut dengan kudeta militer yang terjadi Selasa 19 September lalu.Namun banyak warga yakin Thaksin akan kembali menjadi PM di masa mendatang. "Dia masih tetap pilihan saya. Berkat Thaksin, kehidupan kami lebih baik. Thaksin masih PM kami," kata Wonlapa Sriboonreung, seorang pedagang buah di Desa San Kamphaeng, sekitar 700 kilometer sebelah utara Bangkok.Warga lainnya, Uthai Insee mengaku masih kaget dengan apa yang telah terjadi. Sejak kudeta terjadi, perempuan Thai itu terus berdoa agar Thaksin kembali ke kancah politik."Saya tidak mengerti kenapa kudeta terjadi. Apa orang-orang di Bangkok tidak tahu bagaimana Thaksin telah bekerja untuk negara dan menolong rakyat?" tutur perempuan berusia 65 tahun itu sambil menangis.Wanita tua itu bersyukur atas langkah-langkah besar Thaksin mencakup program kesehatan yang memungkinkan semua warga Thai menerima perawatan medis apapun dengan hanya membayar 30 baht atau sekitar Rp 7.300 per kunjungan.Warga desa lainnya, Penpan Supitayaporn mengaku syok dengan kudeta itu. "Kudeta terjadi begitu mendadak. Saya masih syok. Saya tidak tahu kenapa sejumlah orang begitu membenci Thaksin," kata pria berusia 54 tahun itu.Dituturkan Penpan, dirinya akan memilih Thaksin dalam pemilu mendatang. Dia yakin Thaksin akan kembali menjadi PM Thailand."Masyarakat akan menyadari bagaimana baiknya dia dengan negara ini. Mereka cuma melupakan fakta bahwa dia orang yang jujur dan pekerja keras," ujarnya seperti dikutip kantor berita AFP, Jumat (22/9/2006).Pernyataan senada datang dari seorang bhiksu bernama Phra Arnon Suthiyano. "Saya masih tak bisa percaya bahwa kudeta telah terjadi. Saya ingin Thaksin menjadi PM lagi. Saya tidak setuju dengan penggunaan kekerasan untuk menyelesaikan masalah," tegas pria berusia 30 tahun itu. (ita/sss)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads