Siswa SMP di Karanganyar Gegar Otak Karena Dianiaya Guru

Siswa SMP di Karanganyar Gegar Otak Karena Dianiaya Guru

- detikNews
Kamis, 21 Sep 2006 17:03 WIB
Karanganyar - Arif Deniyanto, siswa kelas tiga SMPN I Jumantono, Karanganyar, harus dirawat di RSUD Karanganyar. Dia mengalami gegar otak setelah dihajar gurunya karena mengenakan seragam yang kepanjangan. Peristiwa penganiayaan itu terjadi hari Rabu (20/9/2006) kemarin. Hingga Kamis (21/9/2006) sore, Arif masih tergolek di rumah sakit tanpa bisa banyak bicara. Dia masih terbaring dengan mata terpejam, sesekali mengeluhkan kepalanya pusing dan perutnya mual. Keluarga Arif menuturkan, kejadian yang menimpa Arif itu terjadi saat pihak sekolah melakukan operasi ketertiban seragam sekolah. Beberapa murid terjaring operasi, termasuk Arif yang saat itu mengenakan seragam agak kepanjangan. Amirullah Ihsan, guru Bahasa Inggris yang juga Wakil Kepala Sekolah, memberi hukuman kepada murid yang mengenakan seragam kepanjangan dengan cara mengguntingi seragam itu. Celana Arif pun digunting di bagian bawah, demikian juga lengan bajunya. Spontan Arif berkomentar tidak ada gunanya membeli seragam jika akhirnya dipotong-potong dan tidak bisa dipakai lagi. Pak guru rupanya tidak bisa menerima kritikan. Dia meradang dan menendang anak Kelas 3-F itu hingga tersungkur. Kepala Arif menjadi sasaran tendangan untuk kedua kalinya hingga membuat Arif terlempar dan membentur tembok. Amir masih hendak melayangkan tendangan untuk kali ketiga, namun urung setelah mengetahui Arif tak sadarkan diri. Teman-teman Arif mengantar pulang Arif ke rumahnya di Desa Karangan, Jumantono, dalam kondisi pingsan. Keluarga lalu membawanya ke rumah sakit. Pihak keluarga tidak bisa menerima perlakukan yang menimpa Arif. Orangtua korban, Sularto dan Sarwiji, telah melaporkan kasus tersebut ke pihak berwajib. "Kami tidak mau untuk berdamai di luar proses hukum. Karena tindakan guru itu sudah keterlaluan," tegas Sukidi, paman korban. Penolakan itu, menurut, Sukidi, juga telah disampaikan kepada Amir yang mendatangi keluarga untuk mengakui kesalahan. Amir mengaku saat itu sangat emosi dan dia berharap kejadian itu dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Sedangkan Kepala SMPN I Jumantonho, Sri Wuryanti menegaskan kejadian yang menimpa Arif bukan suatu kesengajaan atau kebijakan sekolah. Namun demikian pihaknya akan tetap bertanggung jawab. Sedangkan kepada Amir, pihak sekolah akan menerapkan sanksi pembinaan. (mbr/asy)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait