Melesat Bak Meteor, Thaksin Tumbang Secara Dramatis

Melesat Bak Meteor, Thaksin Tumbang Secara Dramatis

- detikNews
Kamis, 21 Sep 2006 16:07 WIB
Bangkok - Perdana Menteri (PM) terguling Thailand Thaksin Shinawatra punya ambisi kuat untuk membangun karir politik dan kerajaan bisnisnya. Namun korupsi dan nepotisme mengganjal gaya kemimpinannya dan mempercepat kejatuhannya.Miliuner berusia 57 tahun itu tanpa terduga terguling dari kekuasaannya oleh komandan militernya sendiri dalam sebuah kudeta mendadak saat dirinya berada di luar negeri.Rakyat Thai tak akan melupakan saat Bangkok menjadi tuan rumah konferensi tingkat tinggi (KTT) Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) pada tahun 2003 lalu. Saat itu, media dunia memuji-muji Thaksin sebagai penerus figur mendunia, mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad yang semasa menjabat telah menjadi wakil suara Asia Tenggara.Rakyat Thai pun tak akan lupa bagaimana Thaksin berhasil meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi negeri Gajah Putih itu. Namun meski bintang Thaksin di dunia internasional kian bersinar, imejnya di dalam negeri mulai memburuk. Tuduhan-tuduhan korupsi menerpanya. Apalagi kebiasaan Thaksin menempatkan kerabat keluarganya di posisi kunci militer dan kepolisian mulai memancing kemarahan lawan-lawan politiknya."Thaksin mengisi semua institusi kunci dengan orang-orangnya," kata seorang pengamat politik Asia, James Klein, seperti dikutip kantor berita AFP, Kamis (21/9/2006)."Korupsi, penyalahgunaan kekuasan... rakyat capek dengan semua itu," imbuh perwakilan Thailand untuk organisasi Asia Foundation itu. Menurut Klein, semasa kepemimpinannya, Thaksin tidak pernah benar-benar menerapkan demokrasi yang sebenarnya. Buktinya, Thaksin punya sejarah menekan media dan meredam suara oposisi. Apalagi pendekatan kerasnya terhadap kerusuhan di Thailand selatan dan intervensinya dalam pergantian posisi penting militer, kian menuai kemarahan banyak pihak.Kalangan analis menilai, salah satu kesalahan terbesar Thaksin adalah penjualan saham keluarga senilai US$ 1,9 miliar di Shin Corp, raksasa perusahaan telekomunikasi Thaksin. Langkah itu menimbulkan aksi protes besar-besaran yang berlangsung hingga berbulan-bulan. Sampai akhirnya Thaksin menggelar pemilihan umum (pemilu) pada April lalu, sebuah langkah politik yang gagal karena kemudian kubu oposisi memboikot pemilu dan pengadilan konstitusional Thailand akhirnya membatalkan pemilu itu. Sejak pemilu itu, krisis politik Thailand kian memburuk hingga masyarakat pun terpecah. Akhirnya dengan maksud menyatukan kembali negara, militer melancarkan kudeta untuk menggulingkan kekuasaan Thaksin. Dan Thaksin pun jatuh secara dramatis. (ita/sss)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads