Pidato Lengkap Paus Benedictus (3)
Kamis, 21 Sep 2006 12:04 WIB
Jakarta - Titik pangkalnya pada Pascal yang membedakan Allah para filsuf dan Allah Abraham, Isak dan Yakub. Dalam kuliah saya mengawali masa bakti di Bonn (1959) saya telah mencoba mengupas masalah tersebut. Sekarang tidak akan saya telaah lagi. Namun saya sekurang-kurangnya akan secara ringkas mencoba, memperlihatkan hal yang jelas baru pada gelombang kedua dibanding gelombang pertama. Inti gagasan Harnack rupanya adalah kembali ke Jesus, si manusia dan pokok pesan Yesus, yang ada sebelum teologisasi atau hellenisasi: pesan dasar itu menjadi tingkatan perkembangan sejati religiusitas manusia. Katanya Yesus menyisihkan kultus untuk digantikan moral. Ia akhirnya diketengahkan sebagai bapak pesan moral yang penuh cinta kepada manusia. Sebenarnya pada dasarnya kekristenan disuarakan lagi dengan akal budi modern: yaitu dengan melepaskannya dari unsur-unsur filosofis dan teologis, seperti iman akan keilahian Kristus dan Tritunggal. Sejauh itu tafsir historis-kritis atas Alkitab menempatkan lagi teologi dalam lingkungan universitas: bagi Harnack, teologi secara hakiki adalah historis dan karena itu sungguh ilmiah. Yang dihasilkannya dengan kritik atas Yesus adalah semacam ungkapan akal budi praktis dan dengan demikian dapat ditempatkan di universitas. Di latar belakang kita temukan akal budi Zaman Baru yang membatasi diri, sebagaimana secara khas ditemukan dalam "Kritik" Kant dan kemudian diradikalkan lagi oleh pemikir filsafat alam. Pendeknya, paham modern mengenai akal budi ini bertumpu pada hasil sintesis (yang diteguhkan oleh perkembangan teknik) antara Platonisme (Cartesianisme) dan Empirisme. Di satu sisi, diandaikan struktur matematik materia (katakanlah rasionalitas batinnya), yang memungkinkan kita dapat memahami dan memakainya. Pengandaian dasar itu bisa disebut unsur platonis dari pemahaman modern tentang alam. Di sisi lain, ada soal tentang dapat berfungsinya alam untuk tujuan kita: kepastian baru kita peroleh kalau dapat dibenarkan atau disangkal dengan eksperimen. Bobot antara keduanya dapat saja berada di salah satu sisi. Seorang pemikir yang sedemikian positivistik seperti Monod telah menyebut diri sebagai seorang Platonis atau Cartesian yang sadar dan yakin. Di sini kita menemukan 2 orientasi dasar bagi permasalahan kita. Hanya bentuk kepastian yang diperoleh dari matematik dan empirik yang memungkinkan orang bicara mengenai sifat ilmiah.Bila mau disebut ilmiah ya harus dapat diukur dengan matematik dan empirik. Maka berusahalah ilmu-ilmu seperti sejarah, psikologi, sosiologi dan filosofi mendekati tata-kanon keilmuan (positivistik) ini. Namun, masih lebih penting lagi bagi pemikiran kita, adalah bahwa metode ini pada dirinya menyisihkan masalah keallahan dan menyiratkan penilaian bahwa soal itu tidak ilmiah atau hanya pra-ilmiah. Dengan demikian kita dihadapkan dengan penyempitan radius Ilmu dan Akal Budi: itu harus dipermasalahkan. Kita akan kembali lagi kepada masalah itu nanti.Sementara itu harus dikatakan, bahwa dengan cara pandang ini, dengan usaha untuk mempertahankan teologi sebagai ilmu, agama kristiani hanya akan tinggal sebagai kepingan kecil saja. Kita harus mengatakan lebih lanjut: si manusia sendiri diperkerdil dengan cara pandang itu. Sebab, masalah-masalah yang khas manusiawi, yaitu pertanyaan mengenai dari mana dan ke mana manusia itu, pertanyaan tentang religi dan etos, tidaklah dapat mengambil tempat bersama, yang oleh akal budi dikatakan bernama ilmu dan harus ditaruh di bagian 'subjektif'. Si subjek menentukan dengan pengalamannya, apa yang agaknya dapat disebut religi dan suara hati subjektif menjadi satu-satunya instansi etis terakhir. Kalau demikian etos dan religi kehilangan kekuatannya membentuk persekutuan dan jatuh pada sifat sewenang-wenang subjektif. Keadaan ini bagi manusia berbahaya: kita melihatnya dalam ancaman patologi religi dan akal budi, yang harus meledak, di mana akal budi disempitkan, sehingga masalah religi dan etos tidak lagi menjadi bagiannya. Tidak cukup lagilah usaha-usaha etis dari pengaturan evolusi, atau psikologi dan sosiologi. Sebelum saya sampai pada kesimpulan, yang menjadi muara seluruh pemikiran tersebut, haruslah saya dengan singkat menyebutkan gelombang ketiga dari pembersihan unsur hellenistik masa kini.Berkaitan dengan perjumpaan banyak kebudayaan, zaman sekarang orang biasa mengatakan, sintesis dengan kebudayaan Yunani yang terlaksana dalam Gereja Perdana, itu kan inkulturasi awal iman kristiani: kita tidak boleh memancangkan kebudayaan lain di situ. Katanya hak kebudayaan lain untuk masuk ke masa sebelum inkulturasi pertama itu: sampai ke pesan awal Perjanjian Baru, untuk berinkulturasi lebih lanjut. Tesis ini tidak begitu saja keliru, namun terlalu kasar dan kurang akurat. Sebab Perjanjian Baru memang ditulis dalam bahasa Yunani dan di dalamnya bersentuhanlah dengan semangat keyunanian, yang sudah matang pada masa sebelumnya, waktu Perjanjian Lama berkembang. Tentu saja ada tahap-tahap dalam proses terjadinya Gereja Perdana, yang tidak menyangkut semua kebudayaan lain. Tetapi keputusan-keputusan dasar, yang menyentuh hubungan antara iman dengan pencarian akal budi manusia, itu merupakan bagian dari iman sendiri dan perkembangannya yang serasi.Sekarang kesimpulan akhirnya: Kritik diri atas akal budi modern yang baru dilakukan pada garis besarnya, sama sekali tidak mencakup pendirian, seakan-akan manusia harus masuk ke balik pencerahan dan meninggalkan masa modern. Besarnya perkembangan budi modern diakui tanpa dikecilkan. Kita semua bersyukur untuk kemungkinan-kemungkinan besar, yang terbuka bagi manusia dan untuk kemajuan-kemajuan bagi umat manusia, yang dianugerahkan bagi kita. Apalagi, pada dasarnya etos keilmiahan adalah kehendak untuk taat pada kebenaran dan sejauh itu merupakan ungkapan sikap dasar, yang merupakan bagian dari pengambilan keputusan kristiani. Bukan menarik kembali atau kritik negatiflah yang kita maksudkan, melainkan soalnya adalah mengenai perluasan faham tentang akal budi dan penggunaan akal budi. Sebab kita memang bersukacita dengan kemungkinan-kemungkinan baru, namun kita juga melihat ancaman-ancaman yang terbit dari kemungkinan-kemungkinan itu dan kita harus mempertanyakan, bagaimana kita dapat mengatasinya. Kita hanya dapat melakukannya, bila akal budi dan iman saling bertemu dengan cara baru; bila kita dapat mengatasi pembatasan diri akal budi atas hal-hal yang dapat dibuktikan keliru dengan eksperimen dan kembali membuka akal budi secara luas lagi. Dalam arti ini, teologi termasuk tidak hanya sebagai ilmu historis dan manusiawi, melainkan sebagai sungguh teologi, yaitu sebagai pertanyaan tentang rasionalitas iman di universitas dan dalam dialognya yang luas dengan ilmu-ilmu lain. Hanya dengan demikian kita akan mampu mengadakan dialog sejati di antara kebudayaan-kebudayaan dan religi-religi, yang amat kita butuhkan. Sejauh ini di dunia barat tersebar pendirian, hanyalah akal budi positivistis dan bentuk-bentuk filosofis yang serupa sajalah yang bersifat universal. Tetapi dari kebudayaan-kebudayaan dunia yang amat religius, tampil pandangan bahwa justru dikeluarkannya Yang Ilahi dari universalitas akal budi itu menjadi pelanggaran terhadap keyakinan-keyakinan batinnya yang terdalam. Akal budi, yang tuli terhadap Yang Ilahi dan Religi yang terdesak bersembunyi dalam subkultur saja, tidaklah mampu mendorong dialog lintas budaya. Sementara itu, saya baru saja mencoba menunjukkan, bagaimana akal budi ilmu alam modern dengan unsur platonis di dalamnya membawa-serta pertanyaan, yang menjangkau melebihi dirinya dan mengatasi kemungkinan-kemungkinan metodisnya. Akal budi modern sendiri harus menerima kehadiran struktur rasional materi, seperti saling bertemunya budi manusia dan struktur rasional yang ada di alam: di situlah jalan metodisnya harus berkembang. Namun pertanyaan, mengapakah semuanya itu: itu tetap ada dan harus diserahkan oleh ilmu alam kepada tingkat lain dan cara lain manusia berpikir - kepada filsafat dan teologi. Bagi filsafat dan dengan cara lain untuk teologi, "mendengarkan pengalaman-pengalaman besar dan faham-faham tradisi religius manusia, khususnya iman kristiani, adalah suatu sumber pencerahan: menolak pencerahan itu adalah penyempitan tidak sah dari cara mendengar dan menjawab tadi". Saya teringat satu kata dari Socrates dalam tulisannya Phaidon. Dalam percakapan-percakapan yang lalu orang sering menyinggung pandangan-pandangan filosofis yang keliru, dan kemudian Socrates berkata: Tentunya bisa difahami, kalau karena jengkel atas sekian banyak kesalahan sepanjang hidupnya, orang benci akan segala percakapan tentang Ada dan mencercanya. Namun kalau demikian ia hanya akan melecehkan kebenaran Yang Ada dan mengalami kerugian yang besar. Dunia Barat telah lama terancam untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang akal budi dan dapat dengan demikian hanya mengalami kerugian besar. Berani memasuki keluasan akal budi, tidak menolak keagungannya - itulah program, yang harus dilaksanakan oleh teologi yang memiliki komitmen pada iman alkitabiah dalam perjumpaan dengan masa kini. "Bertindak tidak rasional (dengan Logos) itu bertentangan dengan hakikat Allah", kata Manuel II mengenai citra Allah yang difahaminya sebagai orang kristiani kepada rekan bicaranya dari Persia. Dalam Logos yang agung ini, dalam keluasan akal budi ini kami mengundang para rekan bicara kami untuk berdialog.Tugas agung universitas adalah untuk senantiasa menemukan hal itu. ?(Habis)Pidato Lengkap Paus Benedictus (1) Pidato Lengkap Paus Benedictus (2)
(asy/asy)











































