Pidato Lengkap Paus Benedictus (2)

Pidato Lengkap Paus Benedictus (2)

- detikNews
Kamis, 21 Sep 2006 11:10 WIB
Jakarta - Kalimat yang menentukan dalam argumentasi melawan pentobatan dengan kekerasan berbunyi: "Bertindak tidak secara rasional, itu bertentangan dengan kodrat Allah". Si penyunting (Th. Khoury) memberi komentar sebagai berikut: "Bagi Kaisar itu (yang sebagai orang Byzantium dibesarkan dalam filsafat Yunani) kalimat itu sudah jelas. Sebaliknya bagi ajaran Islam, Allah itu mutlak transenden. Kehendak-Nya tidak terikat pada kategori-kategori kita mana pun, termasuk rasionalitas. Untuk itu Khoury mengutip suatu karya dari Islamolog Perancis yang terkenal (R. Arnaldez), yang menunjukkan, bahwa Ibn Hazm sampai menjelaskan, bahwa Allah tidak dibatasi oleh sabda-Nya sendiri dan tak ada yang mewajibkan-Nya untuk mewahyukan kebenaran kepada kita. Bila Ia menghendakinya, malah manusia juga bisa menyembah berhala.Di sini terkuaklah perbedaan cara orang memahami Allah dan dengan demikian juga dalam secara konkret melaksanakan agama, yang sekarang merupakan tantangan langsung bagi kita. Hanya cara Yunanikah untuk berpendapat bahwa "bertindak tak rasional itu bertentangan dengan hakikat Allah", ataukah itu berlaku selalu dan memang secara hakiki demikian? Saya pikir, di sini tampak secara mendalam nada sama antara apa yang dalam arti terbaik bersifat Yunani dengan iman kepada Allah yang berdasar pada Alkitab. Seraya mengubah ayat pertama Kitab Kejadian, Yohannes telah membuka Prolog Injilnya dengan kata: "Pada awal mula ada 'logos'-Sabda". Itulah yang persis dipakai oleh Kaisar: Allah bertindak dengan 'logos'-Sabda. 'Logos'-Sabda itu akal budi dan sekaligus kata - suatu akal budi, yang kreatif dan dapat mengkomunikasikan diri tetapi memang sebagai akal budi. Dengan demikian Yohannes memberi kata penutup pada paham alkitabiah tentang Allah: di situ semua jalan yang sering sulit dan samar-samar mengenai iman alkitabiah sampai di tujuan akhir dan menemukan sintesisnya. Pada awal mula ada Sabda, dan Sabda adalah Allah: begitulah kata Pengarang Injil. Ketemunya pesan Alkitab dengan pemikiran Yunani tidaklah kebetulan. Penampakan St. Paulus, (yang tertutup jalannya ke Asia dan yang kemudian melihat wajah orang Macedonia dan mendengarnya memanggilnya untuk datang dan menolong - Kis 16: 6-10) - penampakan itu dapat difahami sebagai pengentalan dari perjumpaan batin antara iman alkitabiah dan pertanyaan hidup pola Yunani, yang memang harus terjadi. Sementara itu, perjumpaan seperti itu sesungguhnya sudah lama berlangsung. Nama Allah yang penuh misteri dari Semak Berduri yang terbakar, yang mengkhususkan Allah ini dari banyak nama dan menyebutNya sebagai Sang Ada adalah penolakan Mitos: sangat analog dengan cara Socrates mengatasi dan melampaui mitos.Proses yang dimulai di Semak Berduri menjadi masak lagi dalam Perjanjian Lama sewaktu Pengungsian: di situ Allah Israel yang tanpa negeri dan tanpa bakti mewartakan Diri sebagai Allah bumi-langit dan memperkenalkan Diri dengan istilah sederhana - meneruskan kata-di-Semak-Berduri "Akulah ini". Bersama dengan pengenalan baru Allah ini terjadilah suatu pencerahan tentang Dewa-dewa, yang secara drastis-merendahkan menyebut mereka hanya sebagai "buatan manusia" (bdk. Mzm 115). Demikianlah, pada masa hellenistik, dalam ketegangan tajam dengan para penguasa Yunani, yang mau memaksakan cara hidup dan cara bakti hellenistik, iman alkitabiah bersentuhan dengan segi terbaik pemikiran Yunani dari dalam - sebagaimana khususnya akan terwujud secara paripurna dalam Sastra Kebijaksanaan. Sekarang kita tahu, bahwa terjemahan Yunani Perjanjian Lama yang terwujud di Alexandria - Septuaginta - itu lebih daripada sekedar terjemahan teks Ibrani (pun kalau dinilai sedikit lebih positif): malah merupakan saksi sastra yang mandiri dan langkah penting tersendiri dari Sejarah Perwahyuan: di situ perjumpaan itu terlaksana dengan suatu cara, yang untuk berdirinya agama Kristiani dan persebarannya mempunyai makna yang menentukan. Pada lapisan terdalam terjadilah pertemuan antara iman dan akal budi, antara pencerahan sejati dengan religi. Manuel II telah dapat berkata sungguh dari kedalaman hakikat iman kristiani dan sekaligus dari hakikat budaya Yunaninya, yang menyatu dengan iman: bertindak "tidak bersama Logos" itu bertentangan dengan hakikat Allah. Di sini, demi kejelasan perlu dicatat, bahwa pada akhir Abad Pertengahan berkembang kecenderungan-kecenderungan dalam teologi, yang merombak sintesis antara Yang Yunani dan Yang Kristiani itu. Berhadapan dengan yang disebut intelektualisme Agustinus dan Tomas, mulailah Duns Scotus dengan Voluntarisme, yang akhirnya sampai mengatakan, bahwa mengenai Allah kita hanya mengenal kehendakNya, voluntas ordinata. Lebih jauh daripadanya, katanya ada kehendak bebas Allah: karena kekuatan itu, Ia mestinya dapat melakukan dan bertindak bertentangan dengan segala yang telah dilakukannya. Di situ terlukislah pendirian-pendirian, yang amat dekat dengan Ibn Hazm dan dapat mengarah pada serba-bebasnya Kehendak Allah, yang malah tidak terikat pada kebenaran dan kebaikan. Transendensi dan bedanya Allah dari manusia sedemikian dilampaui, sehingga akal budi, prarasa kita akan kebenaran dan kebaikan bukan lagi citra sejati Allah, yang kemampuan dasar-Nya di balik segala keputusanNya yang nyata itu memang bagi kita tidak terjangkau dan akan tetap tersembunyi. Terhadap hal itu, iman Gereja selalu berpegangan, bahwa antara Allah dengan kita, antara Roh Pencipta-Nya yang abadi dan akal budi kita yang tercipta, sungguh ada analogi nyata: di situ 'ketidak-miripan' secara mutlak lebih besar dari pada kemiripan; namun di situ analogi dan bahasa tidak disingkirkan (bdk Lat IV). Allah tidaklah menjadi lebih ilahi karena kita desak menuju pada Voluntarisme yang murni dan tak terbayangkan. Allah yang sungguh ilahi adalah Allah, yang menunjukkan diri sebagai Logos dan sebagai Logos dengan penuh kasih telah bertindak dan senantiasa bertindak sekarang. Tentu saja cintakasih "mengatasi 'pemahaman' dan karena itu mampu lebih menangkap dari pada sekedar berpikir saja" (bdk Ef 3: 19).Namun cinta tetaplah kasih dari Logos Allah: untukNya ibadat kristiani ... ada - ibadat, yang sesuara dengan Sabda Abadi dan dengan akal budi kita (bdk Rom 12:1). Tindak saling mendekat yang disiratkan di sini, yaitu yang terjadi antara iman alkitabiah dan pertanyaan-pertanyaan filosofis Yunani, bukanlah hanya peristiwa yang menentukan dari sudut keagamaan saja, melainkan juga dari sejarah dunia, yang sekarang mengikat kita. Bila kita menangkap perjumpaan ini, tidaklah mengherankan bahwa iman kristiani, memang bermula dan berkembang di Timur namun toh ternyata memberi meteri yang menentukan secara historis di Eropa. Kita dapat juga mengatakan sebaliknya: perjumpaan itu, yang masih ditambah warisan romawi, telah menciptakan Eropa dan tetap menjadi dasar dari yang secara sebenarnya disebut Eropa. Terhadap tesis, yang menyatakan bahwa warisan Yunani yang dimurnikan secara kritis itu merupakan bagian dari iman kristiani, muncul tuntutan bahwa Yang Kristiani harus dibersihkan dari Yang Yunani, suatu gerakan yang sejak zaman Baru mempengaruhi refleksi teologis. Bila diperhatikan lebih cermat lagi, dapatlah diamati adanya 3 gelombang pembersihan sifat Yunani, yang memang berkaitan satu sama lain, tetapi toh jelas terbedakan dasar dan sasarannya.Pembersihan dari sifat Yunani muncul pertama-tama dalam kaitan dengan keprihatinan dasar Reformasi abad 16. Para Reformator merasa menghadapi sistematisasi iman tertentu yang sama sekali berasal diri filosofi, dalam tradisi sekolah-sekolah teologis: di situ sepertinya iman ditentukan oleh hal asing yang tidak bersumber dari dirinya sendiri. Di sana iman tampil tidak lagi sebagai Sabda yang secara historis hidup, melainkan ditiupkan ke dalam sebagai sistem filosofis. Sebaliknya 'Sola scriptura' mencari wujud perdana iman, sebagaimana ada pada awalnya dalam Sabdaalkitabiah. Metafisik tampil sebagai masukan dari luar: orang beriman harus membebaskan iman darinya agar dapat menjadi asli lagi. Dengan keradikalan yang tak teramalkan oleh kaum Reformator, dalam pola pikir ini, dengan ucapannya Kant mengatakan telah harus menyingkirkan pikiran, untuk dapat memberi tempat kepada iman. Dengan cara itu ia menempatkan akar iman pada akal budi praktis dan tidak mengaitkannya dengan keseluruhan kenyataan. Teologi Liberal abad 19 dan 20 membawa gelombang baru dalam program pembersihan sifat2 keyunanian. Bagi mereka, Adolf von Harnack menjadi tokoh utamanya. Pada tahun studi dan masa awal pelayanan akademis saya, program itu sangat tampak berpengaruh dalam teologi katolik. (Bersambung). Pidato Lengkap Paus Benedictus (1) (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads