Pidato Lengkap Paus Benedictus (1)

Pidato Lengkap Paus Benedictus (1)

- detikNews
Kamis, 21 Sep 2006 10:19 WIB
Jakarta - Pidato Paus Benedictus XVI di Universitas Regensburg, Jerman 12 September 2006 telah menyulut kemarahan umat muslim di berbagai negara. Para kepala negara dan para tokoh agama pun memberikan tanggapan. Paus telah meminta maaf kepada umat muslim atas hal ini. Pidato Paus juga telah menyulut kemarahan umat Islam di Indonesia. Demo pun digelar, termasuk di depan Kedubes Vatikan. Sementara sejumlah tokoh Katolik berharap agar semua pihak melihat secara lengkap pidato Paus Benedictus, sehingga tidak salah paham. Bagaimana sebenarnya pidato Paus Benedictus di depan para guru dan pelajar saat memberikan studium generale di Universitas Regensburg itu? Romo Prof BS Mardiatmadja, tokoh Katolik dan guru besar Universitas Driyarkara, Jakarta telah menerjemahkan pidato Paus secara lengkap dari naskah asli Bahasa Jerman. Romo Mardi sebenarnya sudah menerjemahkan naskah ini beberapa hari setelah pidato Paus ini menjadi kontroversi. Namun, Rabu (20/9/2006) Romo Mardi memberikan koreksi sedikit terhadap terjemahan pertamanya yang sudah beredar di banyak mailing list itu. Dan Kamis (21/9/2006), Romo Mardi mengirimkan terjemahan pidato Paus ini kepada detikcom agar bisa dinikmati secara utuh.Berikut pidato Paus selengkapnya. Agar naskah tidak terlalu panjang, terjemahan Romo Mardi ini akan dibagi dalam beberapa bagian: Kuliah Paus Benedictus XVI:"Iman, Akal Budi dan Universitas"(12/9/2006)Bagiku merupakan saat mengharukan, bahwa saya berdiri lagi di mimbar Universitas ini dan sekali lagi boleh memberikan kuliah. Dalam pada itu, pikiranku kembali ke tahun-tahun, ketika saya menerima tugas sebagai guru akademis di Universitas Bonn setelah suatu kurun waktu indah di Sekolah Tinggi Freising.Waktu itu - 1959 - masih zaman tata Universitas lama. Untuk setiap mata kuliah, tidak ada asisten atau sekretaris: tetapi untungnya malah ada perjumpaan yang amat langsung dengan mahasiswa dan terutama juga antara para Profesor satu sama lain. Di ruang dosen. kami dapat ketemu sebelum atau sesudah kuliah. Kontak antara ahli sejarah, filsuf, filolog dan tentu saja juga antara para teolog dari kedua fakultas teologi (Protestan dan Katolik) sangat akrab. Tiap semester ada yang disebut 'Hari Akademi': pada saat itu Profesor dari semua fakultas memperkenalkan diri kepada para mahasiswa seluruh Universitas dan dengan demikian menjadi mungkinlah untuk mengalami Universitas benar-benar. Kami mengalami, bahwa dengan semua spesialisasi kami (yang kadang kala membuat kami tidak mampu bicara satu sama lain), toh merupakan satu kesatuan dan secara keseluruhan bekerja dengan satu akal budi dengan aneka dimensinya serta sama-sama dalam tanggung jawab bersama untuk menggunakan akal budi secara benar.Universitas juga sungguh bangga dengan kedua fakultas teologinya (Protestan dan Katolik). Jelas, bahwa kedua fakultas itu, dengan mengajukan pertanyaan rasional kepada iman, melaksanakan tugas, yang perlu termasuk dalam keseluruhan 'Universitas scientiarum', pun kalau imannya tidak dapat sama: para teolog berusaha untuk sama-sama mengacukannya pada akal budi yang satu. Kesatuan batin dalam dunia akal budi itu tidak juga terganggu, tatkala pernah terdengar, katanya ada kolega dosen yang berucap: di Universitas kita katanya ada hal aneh, yaitu bahwa ada 2 fakultas yang menelaah 'sesuatu yang tidak ada' (yaitu Allah). Bahwa berhadapan dengan sikap skepsis seperti ini tetap perlu dan rasional saja, mengajukan pertanyaan secara rasional tentang Allah dan melakukannya dalam kaitan dengan Tradisi iman kristiani, tidaklah dipermasalahkan di seluruh Universitas.Semua itu muncul dalam kesadaranku lagi, ketika belum lama ini saya membaca bagian dialog yang diterbitkan oleh Prof Theodore Khoury (Muenster): di situ: dialognya dari tahun 1391 di suatu barak musim dingin dekat Ankara antara Kaisar terpelajar Manuel II Palaeologos dari Byzantium dengan sang bijak dari Persia mengenai agama Kristiani dan Islam serta soal kebenaran keduanya. Agaknya kaisar menuliskan dialog itu saat pengepungan Konstantinopel antara 1394 dan 1402; begitulah orang dapat memahami bahwa uraiannya sendiri jauh lebih rinci dipaparkan daripada jawab sang ahli dari Persia. Dialog itu mencakup seluruh lingkup tali temali iman dalam Alkitab dan Al Qur'an serta terutama berkisar tentang citra Allah dan gambaran manusia, tetapi juga tentu saja lagi dan lagi mengenai hubungan antara ketiga "Kitab Hukum" Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan Al Qur'an. Dalam kuliah ini saya hanya akan mengupas satu butir (yang juga malah tidak merupakan inti dialog itu): satu butir yang menarik perhatian saya dalam kaitan dengan tema "Iman dan Akal Budi" dan dapat bermanfaat untuk menjadi pangkal pemikiran saya. Dalam buku yang diterbitkan Prof Khoury itu pada lingkaran diskusi yang ketujuh, Kaisar sampai pada tema Jihad (Perang Suci). Kaisar pasti tahu, bahwa dalam Surah 2 (Al Baqarah-Red) ayat 256 dikatakan mengenai tiadanya paksaan untuk urusan iman - itu satu di antara Surah-surah pertama dari masa, ketika Muhammad sendiri dalam kondisi tak kuat dan terancam. Namun kaisar tentu saja tahu juga akan yang tertulis dalam Al Qur'an - kelak tersusunnya - ketentuan mengenai Perang Suci. Tanpa masuk ke dalam rinci-rincian, bagaimana hubungan beraneka antara umat "Ahli Kitab" dan "Orang Tak Beriman", Kaisar memakai cara kasar yang mencengangkan langsung saja masuk ke dalam pertanyaan utama tentang hubungan antara agama dan kekerasan pada umumnya kepada rekan bicaranya. Ia berkata "Tunjukkanlah, apa hal baru yang dibawa Muhammad dan Anda hanya akan menemukan yang buruk dan tidak manusiawi, seperti bahwa ia memerintahkan agar iman yang diwartakannya disebarluaskan dengan pedang". Kemudian kaisar lebih dalam menjelaskan, mengapa penyebaran iman dengan kekerasan itu tidak masuk akal. Hal itu bertentangan dengan kodrat Allah dan kodrat jiwa. "Allah tidak menyukai darah dan bertindak tidak rasional itu bertentangan dengan hakikat Allah. Iman itu buah jiwa, bukan dari tubuh. Maka siapa yang mau menyuruh orang untuk beriman, memerlukan kemampuan untuk menggunakan argumentasi yang baik dan cara berpikir yang benar, bukan kekuatan dan ancaman. Untuk meyakinkan seseorang yang rasional, diperlukan bukan lengan atau alat pemukul atau sesuatu alat, yang dapat mengancamkan kematian". (bersambung) (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads