Presiden Minta TNI Kuasai Teknologi Perang Modern
Rabu, 20 Sep 2006 18:39 WIB
Jakarta - Perwira menengah dan tinggi TNI yang profesional, tidak boleh gaptek (gagap teknologi). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendorong mereka menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai teknologi persenjataan militer modern."Jangan hanya modal nekat, modal berani. Kalau tidak paham teknologi perang modern, kita bisa dikadalin orang lain," kata SBY saat memberikan pembekalan diMabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Rabu (20/9/2006).Sekitar 1.300 perwira menengah dan tinggi TNI peserta rapat pimpinan terbatas, menyambutnya dengan anggukan kepala dan senyum simpul tanda setuju. Pembekalan itu sendiri digelar sebagai rangkaian peringatan hari jadi ke-61 TNI. Presiden menggambarkan situasi perang modern yang sama sekali berbeda dibanding perang kemerdekaan. Perang jaman sekarang lebih didominasi oleh perangkat penghancur yang dikendalikan secara elektronik dari jarak jauh."Kalau kita perang dua hari saja dengan negara X, belum tentu utuh itu PT Pindad, Bandara Soekarno-Hatta dan PT PAL," kata SBY.Tapi ditegaskannya, Pemerintah RI tidak berniat membangun kekuatan militernya secara besar-besaran. Sebab Indonesia tidak ingin menjadi penguasa duniadengan menerapkan politik luar negeri yang agresif dan ekpansif."Kedua, karena memang tidak mampu (keuangan negara) kita. Iya kan?," sambungnya.Sesuai kemampuan ekonomi dan keuangan negara yang akan dikembangkan adalah kemampuan esensi minimal untuk mengemban tugas-tugas berat menjaga keamanan NKRI. Karena itulah meski kekuatan minimal, namun harus tetap canggih mengikuti perkembangan teknologi militer terkini.Terkait luasnya wilayah geografis NKRI yang harus dijaga oleh TNI, Presiden menekankan perlunya dikembangkan sistem suplai logistik yang mumpuni. Sehingga bila suatu ketika mendadak dibutuhkan, dapat digerakkan dengan cepat untuk mendukung pertahanan di garis depan."Tolong itu dipikirkan benar," pinta Presiden.
(jon/jon)











































