Pascagempa, Penderita Diare Meningkat di Bantul

Pascagempa, Penderita Diare Meningkat di Bantul

- detikNews
Senin, 18 Sep 2006 19:32 WIB
Yogyakarta - Pascagempa, jumlah penderita sakit diare meningkat 10 kali lipat di Kabupaten Bantul. Hal itu sebabkan beberapa sumur dan sumber air milik wargabanyak yang tercemar bakteri Escherichia Coli (E-Coli).Penderita diare itu tidak hanya dialami oleh anak-anak dan balita saja, tapi sejumlah orang dewasa juga mengalami hal serupa. Namun hingga kini belum adalaporan, warga Bantul yang meninggal dunia akibat terkena diare.Berdasar data di Puskesmas Kecamatan Pundong pada tahun 2005 selama satu tahun total penderita diare 131 orang atau rata-rata 14 orang per bulan. Namun setelah gempa, jumlah penderita meningkat tajam. Rata-rata sebanyak 150 penderita lebih setiap bulan yang datang ke puskesmas untuk meminta obat. Pada bulan Juni dan Juli ini jumlah penderita diare mencapai 341 orang atau meningkat 10 kali lipat."Hasil pemeriksaan dari tim kesehatan lingkungan, banyak sumur warga yang tercemar bakteri E-Coli," kata Kepala Puskesmas Pundong Sukismi ketika dihubungidetikcom, Senin (18/9/2006).Selain disebabkan tercemarnya sumur warga oleh E-Coli, peningkatan penderita diare ini kemungkinan juga disebabkan minimnya pelayanan kesehatan terhadapmasyarakat yang jadi korban gempa. Selain itu sanitasi lingkungan juga buruk terutama dalam memanfaatkan air untuk kebutuhan minum sehari-hari. "Itu yang jadi salah satu penyebab. Dari jumlah 341 penderita yang paling banyak mengalami diare adalah anak-anak dan balita," katanya.Menurut dia, dari hasil uji laboratorium yang dilakukan Puskesmas Pundong, sebagian besar air sumur warga sudah tidak layak dikonsumsi karena kandunganE-Coli sangat tinggi. Berdasar uji lab tersebut, saat ini kandungan bakteri E-Coli mencapai 1898 per ml dari ambang batas 50 per ml.Selain tercemar, bau air sumur milik warga juga tidak sedap. Beberapa sumur milik warga ada yang kering ada yang dilakukan penyuntikan menggunakan pipa peralon agar air keluar lagi. Namun setelah air keluar, baunya tidak sedap dan terasa asam.Warga terutam di Desa Srihardono, Panjangrejo yang dekat dengan Sungai Opak sudah diingatkan agar tidak mengkonsumsi air yang tercemar tap tetap ada wargayang nekat. Akibatnya beberapa warga ada yang terserang diare namun berhasil ditolong oleh petugas di puskesmas. "Tidak hanya warga Pundong saja yang terkena tapi juga dikecamatan lain seperti Imogiri, Jetis, Pleret dan kecamatan di Kota Yogyakarta air sumurnya juga banyak yang tercemar. Kami terus memberikan penyuluhan kesehatan lingkungan agar jumlah penderita menurun," katanya. Namun ketika ditanya apakah terjadi kasus bayi yang tidak mendapatkan ASI dari orangtuanya kemudian beralih ke susu instan kemudian terjadi diare. Diamembenarkan kemungkinan hal itu bisa terjadi namun pihaknya belum mendapatkan laporan yang lengkap. "Kita belum punya data lengkap, tapi kasus seperti itu memang ada. Yang jelas sanitasi buruk menyebabkan jumlah penderita meningkat," katanya. (bgs/jon)


Berita Terkait