Awas, Aedes Aegypty Bawa Virus Demam Berdarah!
Senin, 18 Sep 2006 19:23 WIB
Semarang - Dulu, Nyamuk Aedes Aegypty menggigit manusia yang terjangkit demam berdarah untuk bisa menularkan penyakit mematikan itu. Kini, nyamuk itu bisa menyebarkan demam berdarah secara langsung. Waduh! Kesimpulan ini diperoleh berdasarkan penelitian di Balai Besar Penelitian Vektor dan Reservoar Penyakit di Salatiga. Tim peneliti menemukan bahwa telur-telur Nyamuk Aedes Aegypty yang dikenal mampu menularkan virus penyakit demam berdarah, kini sudah mengandung virus yang mematikan tersebut. "Ini temuan baru. Akibatnya bisa sangat berbahaya. Bisa terjadi wabah demam berdarah bila kita tidak segera mengatasi dengan pembasmian jentik nyamuk," kata Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Budiharja, di kantornya, Jalan Pierre Tendean, Semarang, Senin (18/9/2006). Dijelaskan dia, sebelum diteliti di Salatiga, demam berdarah disebarkan Nyamuk Aedes Aegypty dengan cara menggigit penderita demam berdarah lebih dulu, lalu liurnya yang mengandung virus demam berdarah itu ia tularkan ke manusia lain yang ia gigit berikutnya. "Namun kini bisa jadi setiap nyamuk Aedes Aegypty langsung menyebarkan demam berdarah itu bila menggigit manusia," terang Budihardja. Hasil penelitian baru tersebut dipaparkan pada 14 September 2006 oleh Dinas Kesehatan Jawa Tengah. Penelitian itu dilakukan selama enam bulan dan mengambil sampel di lima daerah yaitu, Semarang, Tegal, Salatiga, Kabupaten Sukoharjo, dan Kendal. "Dua daerah di kota Semarang yakni, Simongan dan Manyaran, jentik dan telur di sana telah positif membawa virus demam berdarah. Dalam dunia medis, kasus ini dikenal sebagai transovarial transmission. "Itu hasil dari pengecekan lanjutan di Laboratorium Universitas Gadjah Mada. Daerah lainnya menyusul," paparnya. Di sisi lain, gejala demam berdarah pun kini juga mengalami perubahan. Dulu, orang yang terjangkit demam berdarah biasanya demam selama lima hari. Kini demam dalam waktu dua hari pun sudah bisa terkena demam berdarah. Bahkan ada yang tanpa demam pun ternyata telah terkena demam berdarah. Melihat temuan itu, cara pemberantasan nyamuk dengan cara fogging sudah tidak ampuh lagi, karena fogging hanya membunuh induk nyamuk, sementara telur dan jentik masih hidup. Transovarial transmission nyamuk Aedes Aegypty diperkirakan bisa terjadi di daerah lain di luar Jawa Tengah karena kasus demam berdarah telah menyebar di Indonesia . Budiharja mengungkapkan, untuk mencegah penyakit demam berdarah, satu-satunya cara adalah memberantas nyamuk, jentik, hingga telur-telurnya. Hal ini bisa dilakukan dengan menggiatkan gerakan 3M (menguras, menutup, dan mengubur benda-benda yang memungkinkan jadi sarang nyamuk). "Kalau tidak, maka demam berdarah bisa menjadi wabah yang sangat berbahaya. Penyebarannya juga bisa sangat luas," demikian Budiharja.
(asy/)











































