Bocah Empat Tahun di NTT Positif HIV/AIDS
Senin, 18 Sep 2006 15:05 WIB
Kupang - Seorang bocah berusia empat tahun di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam kondisi kritis akibat menderita HIV yang ditularkan ibunya. Bocah tersebut kini dalam penanganan khusus tim medis serta pendampingan psikologis dari komite penanggulangan AIDS Kabupaten Belu dan Yayasan Belu Sejahtera.Wakil Bupati Belu Gregorius Mau Bili yang dihubungi di Atambua, Senin (18/9/2006) mengatakan, ibu kandung bocah yang juga adalah penderita HIV/AIDS sudah meninggal dunia beberapa waktu lalu. "Anaknya kami ambil dan dirawat khusus oleh tim medis," kata Gregorius yang juga merangkap sebagai Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Belu. Menurut dia, kasus HIV dengan penderita anak usia di bawah lima tahun ini merupakan yang pertama di NTT. Dalam lima tahun terakhir, jumlah penderita HIV/AIDS di daerah yang berbatasan dengan Timor Leste itu terus bertambah. "Total korban tewas di Kabupaten Belu sebanyak 14 orang dari 51 penderita yang ditemukan," kata dia. Untuk mencegah penularan HIV/AIDS, menurut Gregorius, pihaknya telah menjalin kerja sama dengan sejumlah lembaga kemanusiaan internasional yang memiliki kepedulian terhadap masalah sosial ini. "Kami sementara melakukan pendekatan dengan Global Fund dan AUSAID untuk membantu mengatasi masalah HIV/AIDS," lanjut dia. Tingginya angka penderita HIV/AIDS di wilayah itu, selain karena kurangnya pemahaman warga atas masalah seksualitas, juga disebabkan oleh kebiasan warga yang sering melakukan hubungan seks bebas dengan pasangan yang bukan suami isteri sah. Kebiasaan ini diakui secara adat dan telah berlangsung secara turun temurun. Oleh masyarakat setempat dikenal dengan istilah Sifon, yang artinya mendinginkan kelamin laki-laki setelah melakukan sunatan secara tradisional. Biasanya, seorang pria yang selesai sunat, diperbolehkan secara adat untuk berhubungan seks dengan wanita lain, tiga atau empat hari sesudah sunat."Sifon dilakukan sebelum bekas luka sunatan mengering. Secara adat, sifon dimaksudkan untuk mendinginkan alat kelamin laki-laki. Tetapi karena hubungan seks itu terjadi saat luka belum mengering, maka faktor inilah yang diduga menjadi penyebab terjadinya penyakit HIV/AIDS," kata Valens, tim medis pada RSUD Atambua.
(asy/)











































