Amankah Bahan Pangan Hewani yang Kita Konsumsi?
Minggu, 17 Sep 2006 16:28 WIB
Jakarta - Amankah bahan pangan hewani yang kita konsumsi? Pertanyaan ini memang cukup menggelitik. Jangan-jangan bahan pangan hewani, seperti daging, susu, telur, dan ikan yang selama ini kita konsumi, sudah tercemar antibiotika dan pestisida. Dan drh Abadi Soetisna Msi membenarkan indikasi pencemaran ini. Menurut dia, sudah bisa dipastikan saat ini sudah ada pencemaran antibiotika dan pestisida pada bahan pangan asal hewan. Abadi Soetisna, peneliti dan pakar pangan, menyampaikan hal ini dalam Studium Generale yang digelar Fakultas Teknologi Pertanian (Fatep) dan Lembaga Penelitian Universitas Djuanda (Unida) di Kampus Unida, Jl. Tol Ciawi, Bogor, Sabtu (16/9/2006). Dalam siran pers yang diterima detikcom, Minggu (17/9/2006), Abadi yang mantan Rektor Unida ini menyamapaikan, zat-zat yang ditemukan dalam bahan pengan hewani antara lain antibiotika, obat cacing, hormon, dan desinfentansia. Penggunaan antibiotika dan hormon yang biasa terdapat dalam pakan ternak ini biasanya digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang diderita hewan ternak dan juga berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan dan penggemukan. Selain itu, air minum yang dikonsumsi hewan ternak pun banyak yang mengalami pencemaran oleh pestisida dengan jenis Diazinon, Propoxur, Endosulfan, Lindan, dan Aldrin. Adanya air yang tercemar ini otomatis mempengaruhi tingkat keamanan terhadap bahan pangan asal hewani ini. Pakan ternak yang memiliki residu tinggi pestisida ini juga berkaitan dengan tingginya tingkat penggunaan organoklorin dalam pertanian untuk memberantas hama tanaman termasuk kacang dan kedelai. Menurut Abadi, residu yang terdapat pada hewan ternak agak sulit dieliminasi, karena biasanya menumpuk di bagian jeroan dan air susu, serta bagian tubuh lainnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya temuan residu pestisida pada air susu sapi yang melebihi batas ambang di beberapa daerah. Beberapa pengolahan ikan (ikan asin) juga menggunakan pestisida guna mencegah terjadinya pembusukan. Ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini terjadi, yaitu kekurangtahuan petani mengenai dosis aman yang digunakan, penggunaan pestisida yang sebenarnya sudah dilarang namun masih beredar dan penggunaan antibiotik dan hormon pemicu pertumbuhan sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas. Lantas bagaimana mengatasi hal ini? Agar masyarakat tidak dirugikan, menurut Abadi, diperlukan payung hukum untuk pengawasan pencemaran antibiotika, hormon, dan pestisida pada bahan pangan asal hewan. Selain itu juga diperlukan standar buku kadar cemaran maksimal yang dapat ditolerir dalam bahan pangan asal hewan.
(asy/)











































