Dari Busway Kembali ke Mobil

Dari Busway Kembali ke Mobil

- detikNews
Kamis, 14 Sep 2006 16:28 WIB
Jakarta - Busway ditelorkan agar para pengendara kendaraan pribadi mengandangkan kendaraannya di rumah. Sebab busway dijamin cepat, nyaman dan murah. Tapi kini alumni busway sudah berjajar. Mereka kembali ke kendaraan pribadi karena busway jauh dari nyaman. Berikut penuturan mereka yang disampaikan pada detikcom, Kamis (14/9/2006):Hari:Sekitar pertengahan Juli saat kendaraan saya dijual, saya berinisiatif berangkat kerja untuk menggunakan busway jurusan Kalideres-Sawah Besar sebagai halte transit dan menyambung ke jurusan Blok M. Saat pertama kali menggunakan, pagi hari sekitar 6.30 dengan start awal di halte Jembatan Gantung Daan Mogot memang ada antrean, tapi beberapa menit kemudian saya terangkut dan melaju sesuai dengan tujuan yang saya inginkan. Tapi setelah sebulan berselang, sekitar pertengahan Agustus, saya mulai merasakan antrean penumpang di halte yang memenuhi ruangan. Hal ini dikarenakan tidak berhentinya busway pada halte tersebut akibat penumpang dalam bus yang selalu penuh. Bus akan berhenti di halte apabila ada penumpang yang kebetulan turun dan itu pun langsung diserbu penumpang dari dalam halte yang memang sudah menunggu lama dan berdiri. Sehingga saya memutuskan untuk mundur ke arah Kalideres dengan harapan mungkin di halte sebelumnya akan lebih sepi dan bisa masuk. Ternyata setelah saya mundur 3 halte, saya mendapatkan pemandangan yang sama, yaitu halte berjubel penuh calon penumpang bahkan ada yang antre sebelum pintu masuk. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti di halte berikut walau kondisinya sama karena 1 halte lagi saya akan masuk ke terminal Kalideres, yang berarti sampai halte awal dan harus membayar lagi. Dan alhasil maka terlambatlah saya masuk kerja hingga hampir 30 menit. Hari berikutnya saya coba lagi dengan pikiran mungkin hari tersebut memang sedang crowded dan ternyata saya menjumpai hal yang sama tapi kali ini saya bertekat menunggu di halte. Kejadian hari sebelumnya terulang, busway yang lewat selalu penuh penumpang dan hanya lewat halte tempat saya menunggu tanpa berhenti. Hingga saya harus berdiri menunggu bersama penumpang lain yang kelihatan juga kesal di depan pintu halte yang disorot matahari pagi. Setelah setengah jam lebih akhirnya ada busway yang berhenti karena menurunkan penumpang dan walaupun sudah diberi komando oleh kondektur bus untuk 1 atau 2 penumpang saja yang boleh masuk, tapi karena sudah menunggu lama maka kami memaksa masuk. Dan jadilah kami "ikan sarden yang dipresto". Dalam hati saya mau komplain dan kesal pada siapa? Apakah pihak pengurus dan pengelola tidak tahu atau tidak menerima laporan tentang kondisi tersebut? Harusnya armada jurusan Kalideres-Sawah besar tersebut ditambah karena sudah tidak sanggup menampung jumlah penumpang yang semakin membludak. Akhirnya saya benar-benar kapok...pok...naik busway lagi dan beralih ke kendaraan pribadi walaupun macet tapi nyaman. Dan ternyata hal ini tidak dialami oleh saya saja teman saya juga mengalami hal yang sama, bahkan dia berangkat lebih pagi dari saya dan dari halte yang lebih dulu dari saya harus mengalami desak-desakan di halte, menunggu sambil berdiri hampir setengah jam, dan masuk ke busway berebut seperti orang kelaparan. Begitulah busway yang dibangga-banggakan tanpa ada solusi untuk mengatasi hal tersebut. Iko:Nama saya Iko, mantan pengguna busway dari Pulogadung. Sebelumnya, saya beralih dari sepeda motor ke busway karena berharap bisa lebih rileks dibanding menyetir motor yg sangat melelahkan. Selain itu, lebih aman dari risiko kecelakaan lalu lintas. Soal ongkos, busway juga masih lebih mahal sedikit ketimbang pakai motor. Soal waktu, busway juga masih lebih lambat sedikit ketimbang pakai motor. Tapi belakangan ini kondisi busway semakin parah saja. Bahkan sampai malam pun masih berjejalan juga (saya sering pulang malam). Akhirnya apa yg saya harapkan semakin jauh dari kenyataan. Naik busway malah lebih capek ketimbang naik motor. Capek antre, capek berdesakan (yang sudah keterlaluan) dan capek dengan gaya menyetir sopir busway yg mulai ugal-ugalan (mudah-mudahan jalur busway baru yang sedang ditinggikan itu nanti dipagari, kalau tidak saya yakin pasti akan ada busway yang terguling). Untuk itu, mulai Senin lalu saya putuskan untuk beralih kembali ke sepeda motor. Pakai mobil pribadi? Wah jangan tanya, sekalipun ada sopir, saya nyerah deh berurusan dengan lalu lintas Jakarta ini.. Arief:Melihat perkembangan sarana busway dan progres pembangunan koridor busway yang sedang berlangsung akhir-akhir ini, yang saya rasakan sebagai pengguna jalan adalah kezaliman penguasa. Bayangkan, niat awal yang mulia untuk menyediakan angkutan publik yang aman, nyaman dan terjangkau dinodai dengan kemacetan luar biasa yang harus mengorbankan produktivitas masyarakat, menimbulkan social cost yang besar yang saya yakin tidak dipedulikan oleh Pemda (atau mereka berpikiran, "Ah, masyarakat kan sekarang tidak bisa memilih (misal) lewat jalan mana atau naik moda transportasi apa..jadi biarkanlah mereka menikmati kemacetan dan segala akibat yang ditimbulkan). Sekarang, masalah baru yang muncul adalah pembabatan pohon dan pembongkaran jalur hijau untuk pelebaran jalan. Inkonsistensi pemda untuk masalah yang satu ini sudah tidak bisa dikomentari lagi. Blueprint yang tidak jelas dan terkesan asal bikin ujung-ujungnya bakal mengorbankan rakyat dan sarana publik pun bakal menghilang. Mungkin mereka mengkonversikan jalur hijau yang hilang itu dengan lahan bekas stadion Menteng itu, yang sampai sekarang pun belum jelas mau diapain. Saya setuju pelebaran jalan dilakukan..tapi jika kebijakan itu tidak sesuai dengan apa yang direncanakan sejak awal..sepertinya masyarakat selalu dipermainkan dengan kebijakan publik yang sporadis. Apa yang selanjutnya akan menimpa masyarakat Jakarta, yang notabene sudah membayar pajak dan berbagai pungutan lainnya, jika model pembuat kebijakan saat ini akan diteruskan oleh penerus yang (tetap) tidak becus mengatasi berbagai permasalahan kota? Wallahualam. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads