PM Palestina Ragukan Kelanjutan Perdamaian dengan Israel
Kamis, 14 Sep 2006 02:54 WIB
Jalur Gaza - Perdana Menteri (PM) Palestina Ismail Haniya telah diserahi tanggung jawab untuk membentuk pemerintahan nasional baru. Namun PM asal Hamas ini justru meragukan kelanjutan proses perdamaian dengan Israel.Menurut Haniya, tidak ada alasan untuk kembali melakukan negosiasi dengan pemerintah Israel. "Kami tidak ingin pengalaman negosiasi yang lalu dengan Israel terulang," kata Haniya kepada wartawan seperti dikutip AFP, usai menyaksikan pertandingan sepakbola di Jalur Gaza, Rabu (13/9/2006). Haniya menjelaskan, sebelum berbicara tentang negosiasi kami harus bertanya kepada diri kami sendiri, apakah Israel mengakui hak rakyat Palestina? Apakah pengungsi akan kembali? Apakah tahanan akan dilepaskan? Apakah pendudukan dan agresi Israel akan berakhir?"Setiap dialog dengan Israel di masa yang akan datang, gerakan Islam Hamas tidak akan mengakuinya, karena itu saya menyerahkan kewenangan ini kepada PLO di bawah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas, bukan pemerintahan saya," urainya.Sementara itu Presiden Palestian Mahmoud Abbas yang dikonfirmasi mengatakan dirinya menyerahkan tanggung jawab kepada Haniya untuk segera membentuk pemerintahan persatuan nasional."Saya tidak mengatakan apa pun, secara resmi saya akan memberinya tugas untuk melakukan itu. Saya harap pemerintahan akan segera terbentuk, Tuhan merestui," tegas Abbas.Haniya dan Abas pada Senin 11 September 2006 sepakat untuk membetuk pemerintahan persatuan yang baru berdasarkan dokumen rekonsiliasi yang disetujui sebagian besar faksi di Palestina pada Juni lalu.18 Cetak biru poin kesepakatan di antaranya menetapkan negosiasi dengan Israel adalah kewenangan PLO dan presiden otoritas Paletina, yang mana apabila sudah mencapai kata perjanjian final harus disetujui parlemen atau melalui referendum.
(ndr/)











































