Ada 'Kasan' Di Balik Panser?
Rabu, 13 Sep 2006 06:50 WIB
Jakarta - Setelah melalui berbagai kecaman dan tudingan, akhir Paripurna DPR-RI menyetujui pencairan dana untuk panser bagi pasukan TNI yang ditugasi PBB menjaga perdamaian di Libanon. Namun sejumlah kalangan masih menginginkan dibukanya tender pengadaan panser tersebut.Beberapa hari sebelum Dephan mengumumkan pengadaan panser jenis VAB (Vehicule de l'Avant Blinde) akan dilakukan Pemerintah RI langsung tanpa libatkan pihak rekanan, suara-suara 'kritis' mulai terdengar dari Senayan.Ada yang mempersoalkan kesesuaian spesifikasi panser angkut personel buatan Perancis itu dengan kondisi medan Libanon yang berbukit-bukit, serta kebutuhan TNI di Tanah Air kelak. "Kok beli panser? Apa nggak sebaiknya beli helikopter, pesawat tempur atau pesawat intai tanpa awak?" gugat mereka.Ada juga yang mempermasalahkan produsen yang dipilih. "Kenapa pilih buatan Perancis? Panser jenis sama buatan Negara-negara Eropa Timur jauh lebih murah. Efisiensi uang Negara dong!" seru kelompok ini.Padahal penentuan jumlah personil yang diberangkatkan dan spesifikasi peralatan yang dibawa, sepenuhnya wewenang DK PBB dan UNIFIL selaku pihak yang memberi tugas pada TNI. Bila tetap ingin dilibatkan sebagai pasukan penjaga perdamaian, Pemerintah RI berkewajiban memenuhi kualifikasi tersebut.Di luar isu teknis, ada yang mengangkat dugaan KKN, yaitu peran importir dari kelompok usaha milik Wapres Jusuf Kalla, hingga ngotot-nya Presiden SBY mengusahakan TNI dilibatkan dalam pasukan perdamaian PBB di Libanon semata-mata demi mendongkrak karier militer putra sulungnya, Lettu Agus Harimurti Yudhoyono.Sebelum bertolak ke pabrik Renault Truck di Perancis, Sekjend Dephan Sjafrie Sjamsoeddin membantah tudingan KKN di atas. Menurut Sjafrie tender tak mungkin dibuka, sebab waktu yang tersedia sangat sempit sedangkan kebutuhannya sudah mendesak.PBB hanya memberi waktu dua bulan bagi negara calon anggota pasukan perdamaian untuk mengadakan peralatan sesuai force requirement yang mereka tetapkan. Sementara aturan dalam PP 8/2006 tentang Pengadaan Barang dan Jasa, menyatakan proses tender tercepat adalah 59 hari.Bahkan, ungkap Sjafrie, penjajagan awal pembelian VAB dilakukan langsung Presiden SBY. Presiden Jaques Chirac selaku pemegang otoritas angkatan bersenjata Perancis yang memesan 32 unit heavy duty vehicle itu diteleponnya di sela-sela KTT luar biasa OKI di Malaysia.Hasilnya dari lobi antar kepala negara tersebut, kali ini Pemerintah RI mendapat harga jauh lebih murah dibanding pengadaan VAB pada 1997 yang melalui rekanan. Harga masih bisa ditawar dan dapat bonus perangkat optional pula."Yang mereka berikan setara 700 ribu euro. Bandingkan dengan pengadaan VAB pada 1997, harganya 770 ribu euro. Harga 700 ribu euro sudah termasuk ILS (integrated logistic support) dan alat komunikasi. Yang 770 ribu euro dulu itu gundul (tanpa alat komunikasi dan ILS)," papar Safrie panjang lebar.Jubir Kepresidenan Andi Malarangeng yang dihubungi terpisah, spontan membantah disertakannya Agus Harimurti Yudhoyono dalam pasukan Garuda XXIIIA adalah atas permintaan Presiden SBY demi mendongkrak karier sang putra. Penetapan kesatuan dan personil yang diberangkatkan adalah wewenang Mabes TNI."Si Agus itu lulusan terbaik AKMIL dan baru selesai master bidang strategic defence dari Singapura. Dia dibutuhkan TNI di sana (Libanon)," kilahnya memberi alasan.Menurut sumber di Dephan, patut diduga kuat bahwa ramainya isu-isu negatif terkait VAB adalah agitasi dari sejumlah 'Kasan' -istilah untuk rekanan pemasok alat pertahanan yang dipopulerkan Ade Daud Nasution, mantan anggota Komisi I DPR-RI- yang kehilangan kesempatan meraup untung besar.Kecewa karena tender tidak dibuka, mereka melampiaskannya melalui 'mulut' anggota DPR-RI. Berbagai informasi dangkal sengaja mereka pasokkan untuk dipublikasikan ke media massa."Kalau mereka sendiri ('Kasan') yang ngomong, siapa mau dengar. Tapi kalau yang bilang itu anggota Komisi I DPR, kan pasti pers beritakan," ujar sumber tersebut.Sejak rencana pengadaan VAB berhembus, sekitar 20 orang 'Kasan' setiap harinya masuk-keluar di jajaran Dephan. Iming-iming mereka pun sangat menggiurkan. Salah satunya adalah fasilitas tranportasi first class dan kamar hotel bintang lima berlian bagi petinggi Dephan untuk melihat langsung panser tawaran mereka di negara produsen.Pengadaan secara direct purchases telah diputuskan, tapi para The Kasaner tetap giat melontarkan isu miring. Apa targetnya?Rupanya mereka melihat ada peluang lain. Jangka pendek adalah mendorong DPR mengharuskan Dephan membuka tender pengadaan panser. Sementara untuk jangka menengah dan panjang, diduga para Kasan mengincar proyek pengadaan amunisi dan onderdil VAB sepulang dari Lebanon ke Tanah Air tahun depan.Belum diketahui apakah akan ada tender tersebut. Tapi yang pasti paket pembelian dari Renault Truck sudah termasuk perawatan 32 unit panser.
(fjr/)











































