Belajar di Tenda yang Panas

100 Hari Gempa Yogya (5)

Belajar di Tenda yang Panas

- detikNews
Selasa, 12 Sep 2006 17:12 WIB
Bantul - Hampir tiga bulan siswa-siswi korban gempa Yogya belajar di tenda-tenda darurat. Mereka belajar di tenda-tenda peleton dengan bahan kain terpal yang cukup panas bila terik sinar matahari menyengat. Debu pun beterbangan ke sana-kemari setiap hari di dekat tenda tempat mereka belajar. Mereka mengeluh tidak bisa konsentrasi bila belajar di tenda dengan udara yang panas seperti saat kemarau sekarang ini. Peluh terus membasahi tubuh siswa sejalan dengan waktu yang semakin bertambah siang. Pemandangan itu terjadi hampir di semua gedung Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI) maupun sekolah menengah di wilayah Bantul, Kota Yogyakarta, Gunungkidul, Sleman, dan Klaten. Mereka terpaksa belajar di bawah tenda, karena gedung sekolah roboh. Dengan kondisi ini, para pamong guru juga tidak bisa menyampaikan materi pelajaran secara baik setiap hari. Mereka menyadari kondisi kelas darurat mengakibatkan murid kurang bisa berkonsentrasi. Akibatnya satu jam mata pelajaran selama 45 menit seringkali tidak diberikan secara penuh.Ketika detikcom mengunjungi SDN II Imogiri dan SMPN 3 Imogiri, sebagian besar siswa belajar di tenda darurat yang dibangun di halaman dan lapangan sekolah. Hampir semua gedung sekolah tempat mereka belajar roboh. Meski ada bangunan yang masih berdiri, tetap tidak bisa ditempati, karena tembok retak-retak. "Semua belajar di tenda, ada yang pakai kursi untuk kelas I dan II tapi ada juga yang lesehan untuk kelas III hingga VI," kata Trijoko, salah seorang guru SDN II Imogiri. Tenda darurat di SDN Imogiri hanya ada tiga buah. Karena terbatasnya ruang belajar, satu tenda dijadikan dua kelas. Kelas satu dan kelas dua berada satu tenda. Namun tempat duduk antara siswa kelas satu dan kelas dua dibuat saling membelakangi. Siswa kelas satu menghadap ke utara. Sedang siswa kelas dua menghadap ke selatan. "Karena tidak ada tenaga angkut, saat pertama kali masuk, semua murid terpaksa kerja bakti mengangkut meja kursi yang tidak rusak dari gudang sementara sebelum pelajaran dimulai," katanya.Hawa di dalam tenda yang panas akibat sengatan Matahari, tak membuat guru patah semangat untuk mengajar. "Tapi mau apalagi, siswa harus tetap belajar, kami terpaksa mencari metode agar siswa tidak cepat lelah dan kadang tidak memberikan pelajaran secara penuh. Ini baru tenda terpal, apalagi kalau tenda yang plastik lebih panas lagi," katanya.Sementara itu, sudah ada beberapa gedung sekolah darurat yang dibangun di lokasi gedung sekolah yang roboh. Bangunan-bangunan darurat itu terbuat dari tiang bambu dan papan gedhek, beratap seng atau asbes. Dana pembangunan gedung sekolah darurat itu berasal dari para donatur. (asy/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads