Lantai Keramik yang Dibiarkan

100 Hari Gempa Yogya (3)

Lantai Keramik yang Dibiarkan

- detikNews
Selasa, 12 Sep 2006 15:41 WIB
Bantul - Desa Segoroyoso, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, selama ini dikenal sebagai desa yang makmur. Namun, akibat gempa 27 Mei 2006 lalu, desa ini luluh lantak akibat gocangan gempa dahsyat. Setelah 100 hari, warga desa ini belum bisa membangun rumahnya kembali. Lantai keramik rumah, sengaja mereka biarkan. Desa Segoroyoso dikenal juga sebagai desa para juragan sapi, desa para tukang hewan ternak dan penyuplai daging sapi se-DIY, dan desa krecek rambak. Sebelum gempa, rumah-rumah warga berdiri tegak dengan kondisi yang bagus. Maklum, sebagian besar warga cukup beruang. Hingga kini, sisa-sisa kejayaan di desa ini masih tampak, meski rumah sudah rata dengan tanah. Salah satu sisa kejayaan mereka yang masih tampak, antara lain lantai dan tembok bangunan lantai keramik yang sengaja tidak dicopot atau dirobohkan. Sebagian tembok dan lantai keramik warna putih, hijau atau biru tua mengkilat masih tampak utuh dan sengaja dibiarkan oleh para pemilik rumah. Mereka hanya merobohkan tembok dinding dan genting. Mereka membiarkan lantai keramik rumah mereka tidak dibongkar, sebagai bukti bahwa mereka dulu memiliki rumah yang cukup bagus. "Tembok dan lantai yang ada keramik sengaja tidak kami robohkan. Cukup dibersihkan saja, mana yang masih bisa digunakan," kata Ahmad Mustain, warga Desa Segoroyoso kepada detikcom, Selasa (12/9/2006). Menurut dia, tidak hanya dirinya saja yang membiarkan lantai keramik tidak dicopot, tapi juga warga desa lainnya. Tujuannya, selain untuk penghematan saat membangun kembali rumah yang rusak, juga sebagai kenang-kenangan. "Ini jadi kenang-kenangan kami kalau dulu punya rumah loji dan luas," kata dia bangga.Saat ini untuk membangun kembali rumahnya, dia hanya mengandalkan harta yang tersisa dari tabungan yang disimpan dan dari penjualan sapi dan daging di pasar-pasar. Namun untuk membangun kembali rumah seperti yang dimiliki sebelum gempa, tidak akan mampu lagi dilakukan. "Tabungan dan modal sudah habis. Dua minggu setelah gempa kami tidak bisa apa-apa, semua mulai dari nol lagi dengan harta yang tersisa. Bahkan setelah gempa, daging yang tak terjual kami bagi ke tetangga," katanya.Sementara itu Camat Pleret Sunarto membenarkan bahwa desa-desa di Pleret seperti Bawuran, Wonokromo dan Segoroyoso sebelum gempa merupakan desa yang makmur. Hampir sebagian besar rumah mereka tembok bangunan baru dengan lantai keramik, berloteng dan genting beton atau genting pres. Sekarang semua bangunan rata dengan tanah, namun sudah ada yang mulai membangun, meski dengan bahan seadanya.Menurut dia, sebagian besar penduduk Segoroyoso adalah para pedagang hewan ternak sapi, tukang jagal sapi, kuda dan kerbau. Sebagian lagi adalah pedagang daging sapi di pasar-pasar di seluruh DIY. "Dua minggu setelah gempa mereka libur tidak menyembelih sapi atau buat krecek atau rambak. Sekarang sudah normal lagi," katanya.Di desa Wonokromo, katanya, banyak warga yang menjadi penjual sate kambing di sepanjang jalan Imogiri Timur mulai dari simpang empat Terminal Giwangan hingga daerah Jejeran Wonokromo. Di sepanjang jalan itu, ada sekitar 50 pedagang sate. Sedang anak-anak muda banyak yang bergelut usaha sendiri (wiraswasta), jadi pedagang onderdil bekas dan baru sepeda motor berbagai merek."Mereka saat ini pelan-pelan mulai bangkit. Saya yakin Pleret akan makmur seperti dulu karena sebagian besar warga adalah para santri yang punya mental enterpreneurship kuat," kata Sunarto. (asy/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads