100 Hari Gempa Yogya (2)
Tenda Darurat itu Mulai Robek
Selasa, 12 Sep 2006 12:45 WIB
Bantul - Tenda-tenda tempat bernaung warga korban gempa Yogya mulai robek dan memudar warnanya. Sementara musim penghujan tidak lama lagi akan datang. Mereka belum bisa membangun rumah sementara, apalagi membangun rumah permanen. Kalau sekarang, sebagian tenda-tenda darurat yang masih berdiri itu ditinggal penghuninya, itu bukan berarti warga korban gempa sudah memiliki rumah. Sebagian dari mereka meninggalkan tenda, karena tidak kerasan tinggal di tenda. Bayang-bayang musim hujan akan segera datang, terus menghantui warga korban gempa.Sebagian besar tenda-tenda plastik sudah rusak dan bolong terkena paku atau kayu runcing. Sebagian tenda sudah rapuh, warnanya sudah memudar kena panas terus-menerus."Terus menerus tinggal di tenda mana ada yang kerasan. Kasihan anak saya yang baru berumur 4 tahun dan duduk di kelas II SD, kalau tidur sumuk (gerah-red) tiap hari," kata Turino (37), warga Karanggayam, Desa Sitimulyo, Piyungan, Bantul.Menurut dia, hawa panas yang dirasakan saat tidur di tenda sudah membuat warga tidak kerasan. Apalagi, tenda-tenda warga juga tidak dialiri aliran listrik. Alat penerang di malam hari hanya berasal dari temaram lampu minyak tanah. Belum lagi, wabah penyakit influenza seperti batuk dan pilek yang melanda korban gempa di saat musim kemarau seperti sekarang ini. "Batuk pilek terus terjadi, sepertinya kok muter terus tak habis-habis," keluh dia.Selain tenda plastik, Turino juga mendirikan gubuk darurat dengan kerangka bambu dan papan triplek dan gedhek untuk penyekat samping kanan dan kiri. Sedang atap dibuat dari dua tenda plastik warna orange yang dijadikan satu. "Itu rumah sementara kami, tapi saya nggak tahu kapan bisa membangun rumah permanen lagi, meski masih punya genting, kayu dan bata yang masih tersisa yang bisa digunakan lagi," kata Turino, yang bekerja sebagai sopir angkutan pedesaan (angkudes) itu.Menurut dia, kerangka bangunan hanya menggunakan kayu dan bambu yang diambil dari sisa-sisa puing reruntuhan. Sedang pintu rumah menggunakan sisa daun pintu yang ada. Agar tahan terhadap hempasan angin, beberapa almari kayu diletakkan di dekat tenda. Selain itu, untuk menahan terpaan angin, di kanan-kiri dipasang gedhek atau papan seadanya. Sebuah almari atau kain korden dijadikan pintu. Namun ada pula warga yang memasang daun pintu dengan kusen yang masih utuh. Dua tempat tidur ditaruh di dalam tenda untuk anak-anak dan istrinya. Sedangkan meja kursi ruang tamu berada di depan tenda, dengan sekat almari pakaian dengan pintu menghadap ke dalam. Dapur agak jauh ke belakang dari tenda menggunakan kompor dan kayu bakar agar tidak menimbulkan kebakaran. Sedang aliran listrik hanya mengandalkan aliran yang dilakukan patungan antarwarga, karena meteran listrik sudah dicabut. Sepeda motor ditaruh di samping rumah, berada di dekat tumpukan kayu. Beberapa barang berharga seperti surat-surat penting atau emas disimpan di dalam tenda."Kalau malam saya dan beberapa tetangga tidur di depan tenda. Bila tidak, motor bisa hilang digondol pencuri meski sudah dirantai," kata Turino.Karena tidak ada penerangan listrik di rumah-rumah, kata dia, banyak anak-anak sekolah yang kesulitan belajar di malam hari. Mereka terpaksa belajar sore hari atau menumpang di rumah tetangga atau di masjid yang masih ada aliran listrik. "Itu baru masalah belajar, untuk hiburan, acara televisi saja sudah membuat pusing orang tua," katanya.Dia mengatakan semua korban gempa membutuhkan rumah. Namun, warga tidak bisa membangun rumahnya, karena tidak ada uang. Satu-satu harapan adalah dana bantuan pemerintah meski belum turun. "Sungguh, kami ini butuh rumah. Janji bulan ini mau cair ternyata dijanjikan 1 Oktober nanti dan tahap kedua juga dijanjikan akan ada. Tapi banyak warga yang tidak percaya, makanya pilih dibagi rata," ujar dia.
(asy/nrl)











































