100 Hari Gempa Yogya (1)
Warga Masih Tinggal di Tenda
Selasa, 12 Sep 2006 12:00 WIB
Bantul - 100 Hari lebih telah berlalu dari 27 Mei 2006. Tanggal 27 Mei 2006 masih sangat diingat oleh warga DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Saat itulah, mereka diguncang gempa 5,9 SR. Ribuan orang tewas dan banyak warga yang kehilangan rumahnya. Kini, setelah 100 hari berlalu, warga korban gempa tetap masih tinggal di tenda dan tempat seadanya. Hingga Selasa (12/9/2006), para korban gempa belum mampu membangun kembali rumah-rumahnya yang roboh itu. Tidak ada uang untuk membangun kembali rumah mereka. Sementara bantuan rekonstruksi dari pemerintah yang dijanjikan belum juga turun. Ketika detikcom kembali menyusuri beberapa wilayah yang terkena gempa, pemandangan masih sama seperti satu hari setelah gempa terjadi. Puing-puing reruntuhan bangunan masih banyak menumpuk di dusun-dusun. Tenda atau gubuk darurat didirikan di bekas reruntuhan rumah. Penyusuran kembali dimulai dari wilayah Bantul bagian timur ke arah selatan yang berada tidak jauh dari aliran Kali Opak yang merupakan jalur patahan gempa. Pertama kali yang didatangi adalah Desa Srimulyo dan Sitimulyo, Kecamatan Piyungan. Kemudian dilanjutkan menuju Desa Jambidan Banguntapan, Desa Bawuran, Wonolelo, Segoroyoso, Wonokromo, Kecamatan Pleret. Dari Pleret dilanjutkan menuju Desa Trimulyo Kecamatan Jetis, Desa Wukirsari, Kebonagung, Sriharjo Kecamatan Imogiri. Dari Sriharjo kemudian melewati daerah Dusun Siluk Desa Selopamioro yang dekat dengan pertemuan Kali Opak dan Kali Oya. Di sekitar dua sungai itu masih sering terdengar bunyi gluur atau gluung di tengah sungai itu. Selanjutnya menyeberang Sungai Opak menuju Desa Panjangrejo dan Srihardono Kecamatan Pundong Bantul yang juga merupakan desa terparah akibat gempa.Dari Pundong penyusuran dilanjutkan menuju Desa Patalan dan Canden kecamatan Jetis. Dari Jetis, kemudian ke wilayah Desa Sabdodadi Bantul, Desa Timbulharjo, Panggungharjo dan Bangunharjo Sewon Bantul. Semuanya kondisi masih sama. Warga masih tidur di tenda atau rumah darurat dari bahan seadanya dan beratapkan tenda plastik. Demikian pula dengan bangunan sekolah terutama SD, SMP dan SMA, puskesmas dan kantor desa, kecamatan, polsek sampai sekarang masih ada yang menggunakan tenda darurat atau tenda peleton dari bahan kain terpal. Meski sudah ada beberapa gedung SD yang sudah dibangun oleh para donatur, sebagian besar masih darurat dari gedhek bambu dan beratap asbes atau seng sehingga sangat panas. Beberapa jalan, saluran irigasi dan jembatan yang rusak sudah ada yang diperbaiki, terutama yang retak-retak di dekat sambungan besi jembatan sudah ditutup dengan aspal dan diratakan. Namun beberapa bahu jalan di Kota Yogyakarta dan Bantul yang longsor, belum diperbaiki.Yang membedakan, bila beberapa hari setelah gempa banyak warga yang masih duduk termenung dan bengong di depan reruntuhan rumah sambil mengais dan mengumpulkan sisa harta yang masih bisa diselamatkan, sekarang ini suasana dusun yang terkena bencana pagi hingga sore sudah tampak lengang. Warga sudah kembali bekerja seperti sediakala. Ada yang bekerja di sawah, maupun bekerja sebagai buruh di kota, pegawai dan lain-lain. Meski demikian, masih banyak dijumpai tenda atau rumah darurat dari gedhek atau papan triplek. Puing-puing rumah sudah tidak berantakan, tapi bongkaran batu-bata tampak menggunung. Beberapa material kayu dan perabot rumah sudah tersusun rapi di dekat tenda.Rumah warga masih mengunakan tenda plastik atau deklit yang biasa digunakan untuk tenda warung kaki lima. Demikian pula tenda dari kain terpal atau tenda peleton, maupun tenda dome bantuan dari donatur juga masih banyak berdiri di sekitar dusun-dusun.Namun mulai di daerah Kecamatan Pleret, Jetis dan Imogiri, terutama di sepanjang jalan Imogiri Barat, tenda-tenda dome berbentuk bulat sudah tidak banyak berdiri di pinggir sawah maupun di sekitar jalan dusun. "Tenda bundar bantuan asing itu oleh warga tidak ada yang dijual, kalau ketahuan dijual malah kami beri sanksi. Mereka memilih buat rumah darurat dari gedhek daripada tidur di tenda plastik yang gampang kena penyakit," kata Nur Fathoni, kepala Desa Karangtalun, Kecamatan Imogiri.Sebagian besar korban gempa, kata dia, masih tinggal di tenda atau gubuk darurat dengan bahan seadanya. Namun mereka belum bisa membangun rumah permanen, karena tidak ada dana. Rumah darurat itu sangat sederhana, menggunakan bahan yang masih tersisa dari reruntuhan. Luas bangunan hanya berukuran 8 x 3 meter dengan tinggi sekitar 2 meter. Atap tidak menggunakan genting tanah liat, asbes atau seng. Namun cukup satu atau dua lembar tenda plastik dijadikan satu, kemudian ditutupkan. "Kondisi korban sampai saat ini masih belum berubah. Belum punya rumah dan masih tidur di tenda. Yang mengalami luka atau cacat masih terapi secara rutin di rumah sakit sendiri. Rumah sakit lapangan sudah tidak ada lagi, sehingga banyak warga yang enggan periksa di rumah sakit karena jauh," kata dia.
(asy/nrl)











































