Polisi Pekanbaru Penyelundup Daging Ilegal Segera Diadili

Polisi Pekanbaru Penyelundup Daging Ilegal Segera Diadili

- detikNews
Senin, 11 Sep 2006 20:55 WIB
Pekanbaru - Polda Riau menindaklanjuti kasus keterlibatan oknum perwira Poltabes Pekanbaru yang terlibat penyelundupan daging. Dalam waktu dekat, kasusnya akan diajukan ke persidangan."Tidak benar jika kami mendiamkan kasus tersebut. Kita sudah limpahkan persoalan ini ke pihak Polda Riau untuk diambil tindakan tegas. Kalau dulu mungkinlah bisa ditutup-tupi, tapi sekarang mana mungkin lagi," kata Kapolres Siak, AKBP Hisbullah kepada wartawan, Senin (11/9/2006) di Mapolda Riau, Jl Sudirman, Pekanbaru.Penegasan itu membantah tudingan Polres Siak melakukan diskriminasi dalam penanganan kasus penyelundupan daging tersebut. Sebelumnya, dalam kasus ini Polres menangkap dua pelaku, Ahmad Salehan (48) dan Iptu Muslim anggota Poltabes Pekanbaru."Memang untuk tersangka sipil saat ini kasusnya tengah menjalani persidangan. Namun bukan berarti kita mengabaikan tersangka dari anggota kepolisian. Kita tetap akan proses sesuai hukum. Ancamannya kalau tidak turun pangkat, mungkin saja di pecat," kata Kapolres Siak.Kasus penangkapan penyelundupan daging asal Malaysia ini dilakukan jajaran Polres Siak, pada Mei 2006 silam. Waktu itu, 3 ton daging sapi dalam kontainer dari Malaysia akan dijual di Pekanbaru. Sebelum daging ini beredar di pasaran, pihak kepolisian keburu menangkapnya.Awalnya, pihak Polres Siak menahan kedua tersangka. Belakangan pihak kepolisian hanya mengajukan BAP Ahmad, buruh pelabuhan yang diajak Muslim berbisnis daging ilegal. Sedangkan Muslim anggota Poltabes Pekanbaru dilepas.Sikap polisi yang terkesan pilih kasih ini, membuat istri Ahmad Salehan, Nurmaida angkat bicara ke media. Nurmaida menyebut Iptu Muslim berjanji kepada keluarga Ahmad bila mengakui sebagai pemilik, akan dibantu proses pelepasannya. Namun semua itu hanya janji manis belaka."Sejak suami saya ditahan sampai ke persidangan, saya cuma menerima bantuan dari Pak Mus Rp 1 juta. Ekonomi kami morat-marit. Anak saya paling bungsu yang seharusnya sudah masuk sekolah tahun ini , terpaksa batal. Karena kami tidak punya uang," ujar Nurmaida ibu dari enam orang anak ini pada wartawan. (fay/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait