Bali Waspadai September-Oktober
Senin, 11 Sep 2006 16:56 WIB
Denpasar - Peledakan bom Bali II, 1 Oktober 2005 di Kuta dan Jimbaran membawa trauma bagi masyarakat Bali. Mengantisipasi kejadian serupa, Polda Bali meningkatkan kewaspadaannya menghadapi bulan rawan aksi terorisme, yaitu September-Oktober. "Kita mulai meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi segala kemungkinan aksi-aksi kriminal yang meresahkan masyarakat," kata Kepala Bidang Humas Polda Bali Kombes Pol Reniban kepada detikcom di Mapolda Bali, Jl. WR Supratman, Denpasar, Senin (11/09/2006). Reniban mengatakan, Polda Bali sudah menempatkan aparat keamanan di sejumlah perbatasan dan pintu masuk ke Bali, seperti di Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jimbaran yang menjadi pintu masuk dari jawa ke Bali, Pelabuhan Laut Padang Bai, Kabupaten Karangsem yang menjadi pintu masuk dari wilayah Lombok, pelabuhan kecil di sepanjang pesisir pantai di Bali. "Kita juga melakukan pengamanan secara ketat di Bandara Internasional Ngurah Rai," katanya. Selain menempatkan pasukan secara terbuka, Polda Bali juga telah menggerakkan inteligen untuk memonitor pergerakan pelaku kejahatan. Hanya saja, Reniban enggan mengatakan jumlah aparat keamanan yang dikerahkan Polda Bali. "Jumlah sangat tergantung dengan dinamika operasional di lapangan," ujarnya diplomatis. Polda Bali juga menggandeng sistem keamanan tradisional Bali. "Masyarakat bisa melaporkan kepada polisi jika menemukan orang-orang yang mencurigai di sekitarnya," kata dia. Reniban menegaskan hingga kini belum menerima laporan dari petugasnya di lapangan adanya tanda-tanda aksi terorisme atau orang-orang yang mencurigakan. "Sampai sekarang belum ada. Mudah-mudahan tidak ada, tetapi kita tetap waspada," demikian Reniban. Sebelumnya, Bali diguncang dua kali ledakan, yaitu bom Bali I, 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang. Tiga tahun kemudian, 1 Oktober 2005 yang dikenal dengan bom Bali II, bom menyalak kembali hingga menewaskan 22 orang.
(asy/nrl)











































