Boyolali Kekeringan, Sawah Terlantar
Senin, 11 Sep 2006 14:55 WIB
Boyolali - Musim kemarau telah mengeringkan areal pertanian di Boyolali. Janji pemerintah mengalirkan irigasi dari waduk tak dipenuhi. Akhirnya puluhan hektar lahan sawah dibiarkan kosong. Para petani pemilik lahan mengganggur. Di Kecamatan Ngemplak, Boyolali, setidaknya terdapat puluhan lahan pertanian di lima desa yang mengalami kekeringan akibat tidak ada suplai air. Sumur sedot yang diandalkan petani telah tidak mengeluarkan air akibat kemarau. Akhirnya petani hanya menggantungkan suplai air dari Waduk Cengklik yang berjarak 15 kilometer dari daerahnya. Namun suplai itu juga sudah berhenti sekitar dua bulan lalu. Pemerintah menutup pintu waduk untuk irigasi pertanian dengan alasan air waduk sudah menyusut drastis. "Awal bulan Juni lalu kami telah mengajukan bantuan air ke pemerintah. Saat itu dijanjikan akan diberi droping air gratis bergiliran untuk tiap kelompok tani. Droping air itu baru datang sekali pada awal Agustus lalu, hingga sekarang tidak datang lagi," keluh Samijo, salah seorang petani, Senin (11/9/2006). Untuk musim tanam kali ini, lahan sawah daerah itu dibiarkan terlantar. Para petani pun terpaksa menjadi pengganggur karenanya. Padahal seharusnya bulan September ini adalah masa menyemai bibit. Alasannya, mereka tidak mampu membeli air untuk pengairan sawah. Jika harus membeli air, menurut mereka, untuk setiap 250 meter persegi sawah dibutuhkan uang sekitar Rp 40 ribu setiap kali siram. Padahal bibit padi membutuhkan air cukup banyak dari masa persemaian hingga penanamannya.
(nrl/)











































