Pemakaman Umum di Mindi Dikepung Lumpur Lapindo
Sabtu, 09 Sep 2006 17:01 WIB
Sidoarjo - Setelah makam Kedungbendo, Tanggulangin, tenggelam, giliran area pemakaman umum di Desa Mindi, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, terancam ditelan lumpur. Tanggul raksasa pun tidak mampu menahan luapan lumpur.Warga yang tidak ingin makam leluhurnya hilang, terpaksa memasang tanda berupa kayu yang terdapat nama-nama keluarga mereka yang sudah meninggal.Namun sebenarnya upaya yang dilakukan warga tersebut akan sia-sia. Sebab, langkah itu sebelumnya pernah dilakukan warga di Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin.Warga Kedunbendo semula tidak mengira, jika ketinggian lumpur dan air menembus lebih dua mater mengakibatkan makam leluhurnya tetap saja akan lenyap."Kita tetap berusaha Mas. Siapa tahu tanggul-tanggul di sekitar makam bisa menghalau lumpur," kata Ny Rukayah (45), warga RT 09 RW II Desa Mindi, saat ditemui detikcom ketika sedang memasang tanda berupa kayu di makam adiknya, Sabtu (9/9/2006).Di tempat pemakaman yang sudah dikepung lumpur ini, menurut Rukayah, terdapat tujuh makam sanak kerabatnya, termasuk ibu kandungnya."Mudah-mudahan saja makam ini aman sebab setiap Ramadhan, kita semua biasanya selalu nyekar atau tengok kubur. Kalau nanti hilang kena lumpur, ya kita tidak tahu lagi," terang Ny Rukayah yang didampingi suaminya.Hal serupa juga dilakukan Yusuf (26), pemuda yang bertetangga dengan Ny Rukayah, ini berusaha memerikan tetenger di makam neneknya. "Kata Lapindo, mereka akan berusaha keras memperkuat tanggul supaya lumpur tidak masuk makam," ujarnya.Meski banyak yang memasang tanda, namun itu tidak berlaku bagi keluarga H Fatchur (42). Bersama istrinya, Umi Ubaidah dan dua putrinya, ia berziarah ke makam mertuanya Almarhumah Umi Kalsum yang meninggal 15 tahun lalu.Di samping makam mertuanya juga terdapat makam adiknya, Atok. Keluarga yang tinggal di RT 13 RW II Mindi ini terlihat khusyuk berdoa."Ini tilik kubur yang barangkali terakhir, karena kita tidak tahu apakah ke depan lumpur meluap atau tidak. Jika lumpur menenggelamkan makan, ya kita tidak bisa berbuat apa-apa," jelas Ny Umi Ubaidah.Umi dan keluarga lainnya tidak akan memasang tanda untuk tetenger makam ibu dan adiknya karena ia menilai langkah itu akan sia-sia. "Di desa lain kan sudah seperti itu, dikasih tanda toh makamnya tenggelam. Dinding saja jebol kena lumpur apalagi cuma tiang kayu. Belum lagi apa kita masih bisa ziarah kalau makam ini sudah dikepung lumpur Mas," kata Ny H Fatchur.Pantauan detikcom di Dusun Babatan Desa Besuki Kecamatan Kabon, warga setempat juga telah melalukan antisipasi dengan memasang terpal di makam sanak kerabatnya. Makam yang dilindungi terpal dan dikasih pemberat batu diyakini mampu mengamankan makam agar bisa tetap utuh.Sekadar diketahui, Lapindo telah membangun kolam penampungan (pond) 5 dengan luas mencapai 95 hektar. Pembangunan pond ini hingga memakan area persawahan Desa Pejarakan. Saat ini, pengerjaan pond yang mengepung pemakaman Mindi tengah berlangsung.
(aan/)











































