RMS Lebih Baik Berintegrasi

Dubes J.E Habibie (2)

RMS Lebih Baik Berintegrasi

- detikNews
Sabtu, 09 Sep 2006 14:10 WIB
Den Haag - Generasi ketiga RMS lebih baik berintegrasi, menjadi warga negara Belanda yang baik. Ide RMS itu khayalan, mimpi.Junus Effendy (J.E) Habibie, dubes Indonesia mendatang untuk Kerajaan Belanda, mengatakan hal itu dalam wawancara dengan televisi Belanda, Netwerk, yang berlangsung di Jakarta.Junus, beken di kalangan akrab dengan sapaan Fanny, baru akan menempati pos Den Haag pada Oktober mendatang. Menurut informasi, dia memiliki koneksi dan jaringan perkawanan luas di kalangan politisi liberal Belanda yang aktif di Volkspartij voor Vrijheid en Democratie (VVD), Partai untuk Kebebasan dan Demokrasi. Kebetulan atau tidak, pesan Fanny kepada RMS itu sejalan dengan kebijakan VVD, yang getol mengangkat isu integrasi allochtonen (non pribumi) di Belanda dan menjadikannya sebagai program kebijakan. Berikut ini lanjutan petikan wawancara Fanny dengan Netwerk yang disiarkan Kamis jam 19.30 atau Jumat (8/9/2006) jam 00.30 WIB dinihari. Narasi disajikan dalam tanda kurung.(Arsip aksi RMS, "Merdeka! Merdeka! Merdeka! Ereschuld! Ereschuld!, Hutang kehormatan, Hutang kehormatan! Belanda selalu mengatakan kepada Jerman, kembalikan sepeda kami. Kalau kami (RMS) mengatakan, kembalikan kekayaan kami")Hutang kehormatan? Ya. Edan apa. Mereka edan. Sungguh. Edan, itu kata yang tepat. Mereka semua edan (tidak rasional, red). (RMS dulu adalah orang-orang KNIL kaki tangan setia Belanda selama masa penjajahan. Persoalan muncul ketika Belanda harus angkat kaki dari bumi Nusantara. Selanjutnya pada 1950 Belanda memutuskan untuk mengapalkan mereka beserta keluarganya ke negeri sang tuan, dengan alasan keamanan. Itu kesalahan terbesar. Itu kesalahan terbesar.Sebab Anda, Indonesia, tidak akan mengapa-apakan mereka?Tidak pernah dan tidak pernah, tidak pernah, tidak pernah.Namun mengapa orang-orang ini begitu banyak menanggung duka dan penderitaan?Itu harus kamu tanyakan kepada pemerintah Belanda.(Orang-orang RMS setiba di Belanda ditempatkan di kamp-kamp, kontras 180 derajat dengan apa yang telah dibayangkan dan diimpikan. Pemerintah Belanda kemudian menjanjikan bahwa mereka akan segera kembali ke tanah air Maluku dan akan memiliki negara merdeka, Republik Maluku Selatan (RMS). Namun janji itu tidak pernah menjadi kenyataan. Oleh sebab itu mereka akhirnya melakukan aksi-aksi kekerasan, baik terhadap pemerintah Indonesia maupun Belanda.)Terhadap generasi ketiga saya ingin mengatakan, "Nak, jadilah warga negara Belanda yang baik"Apa maksud Anda?Maksud saya lupakan saja mimpi-mimpimu itu. Jadilah warga negara Belanda yang baikSudahi RMS dan berintegrasilah di Belanda, begitu?Ya! Karena generasi kedua tidak melakukan itu, maka mereka sampai kini masih terus bermimpi. Tetapi apa yang jadi kenyataan? Ayo sebutkan. Pendidikan? Jadi apa mereka? (Habibie menggelengkan kepala). Apa kerja mereka? Juga tidak banyak. Mereka membangun kastil di udara (mengkhayal, red) dan bermimpi. (Sebagian warga generasi pertama Maluku di Belanda hingga kini tinggal di kawasan terpisah dan hampir tidak terintegrasi.)Menurut saya, generasi pertama mereka adalah generasi yang hilang. Mereka kini rata-rata sudah 72 tahun, minimal 72 tahun. Menderita. Hidup susah. Kebencian masih tertanam dalam diri mereka. "Mengapa saya di sini harus menderita begini?"(Orang-orang tua ini masih merindukan kampung halaman, di mana mereka dilahirkan. Sebagian rumah-rumah mereka masih ada hingga sekarang. Dan di sana pula mereka ingin mati dan dikuburkan.) Narasi disusul suasana di Maluku nan elok, bermandi hangat mentari, berbalut biru laut dan ceria debur ombak. (Pemerintah Indonesia di masa lalu mencegah tangkal kedatangan orang-orang Maluku pro RMS dari Belanda. Kedatangan mereka dinilai memprovokasi penduduk setempat untuk mewujudkan mimpi RMS, sesuatu yang hanya ada di Belanda.)Jadi RMS sudah tidak ada?Dalam mimpi itu masih ada. Ide itu provokasi dari (RMS) di Belanda?Orang-orang yang di Belanda itu masih bermimpi akan dimerdekakan oleh Belanda. Mereka bermimpi mau merdeka untuk 45.000 orang (perkiraan RMS di Belanda), sedangkan di sini di Indonesia kita punya begitu banyak orang Ambon.Kalau begitu apa dong? Mengapa setiap kali orang-orang Maluku di Belanda itu sibuk dengan RMS?Karena mereka masih tetap bermimpi. Mereka mimpi, mimpi dan mimpi. Mereka mimpi bahwa mereka lebih baik. Seharusnya mereka membuka mata. Kehidupan mereka (di Belanda) mungkin lebih buruk dari orang-orang Maluku di sini. (es/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads