Hikayat Rakyat Buyat (3-Habis)
Ke Buyat, Kami Kan Kembali
Rabu, 06 Sep 2006 14:35 WIB
Minahasa -
"Di sana kami hidup setengah mati. Tebingnya curam. Susah sekali kalau mau melaut. Kalau pun melaut, tak ada ikan kembung. Kami pun memilih balik ke Buyatpante."Itulah penuturan polos Sarpa, 28 tahun. Ibu 3 anak dan istri dari Respi Bawole itu bercerita panjang lebar ketika ditemui pada Sabtu(2/9/2006) lalu. Di sana yang dimaksudkan Respi itu tak lain di lokasi evakuasi warga Buyatpante di Dominango, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Lokasi ini terletak 100 Km dari Buyatpante.Respi Bawole pada Juni 2005 beserta warga Buyatpante lainnya meninggalkan dusunnya pada Juni 2005 lalu. Respi membawa pula istrinya Sarpa dan 3 orang anaknya yang masih kecil-kecil. Di lokasi evakuasi, menurut penuturan Sarpa, setiap KK mendapat jatah tinggal di barak berukuran 3 X 3 meter.Pada awalnya, menurut cerita Sarpa, mereka, warga Buyatpante itu mendapat bantuan hidup selama 3 bulan. "Kami bekerja sebagai buruh pemetik rica (cabe)," kata Sarpa. Seminggu 3 kali memetik cabe dengan upah per harinya berkisar Rp 15-20 ribu. "Hidup kami setengah mati," katanya. Sementara janji mendapatkan rumah belum juga didapat.Melaut, menurut penuturan Sarpa, sulit. Kalau pun melaut dan dapat ikan, menjual ikan tangkapan pun akan sulit pula. "Suami saya lalu memutuskan untuk pulang kembali ke Buyatpante," tutur Sarpa sembari menggendong anak lelakinya.Sarpa dan keluarga tiba kembali di Buyatpante pada 17 Juni 2005 lalu. Suami Sarpa, Respi, di samping tetap bekerja sebagai nelayan, juga menjadi buruh penambang emas rakyat di kawasan Ratatotok. "Dari jualan ikan paling jelek sehari dapat Rp 30 ribu," kata dia. "Di sini kami bisa hidup lebih baik," imbuhnya."Saudara kami di sana banyak yang ingin kembali ke Buyat," kata Sarpa. Kepala Dusun Buyatpante, Robert Sasuwahe, membenarkan cerita Sarpa itu. "Kami sudah mulai berhubungan dengan keluarga kami. Mereka sudah menyatakan keinginannya untuk kembali ke Buyat," kata Robert. "Namun Pemerintah masih melarang," tambah Robert."Kami tak sabar lagi untuk berkumpul dengan sesama saudara kami di Buyatpante ini," kata Robert.
(bdi/)










































