Kembalikan Keluarga Kami

Hikayat Rakyat Buyat (2)

Kembalikan Keluarga Kami

- detikNews
Rabu, 06 Sep 2006 13:24 WIB
Kembalikan Keluarga Kami
Minahasa - Desir ombak pantai Teluk Buyat terasa ringan. Angin berhembus sepoi-sepoi saja. Di teras rumah yang sederhana, lelaki 58 tahun itu terlihat asyik membenahi jala. Raut mukanya menbekaskan akan sebuah kehidupan keras yang ditempuhnya. Lelaki yang mulai memasuki usai senja itu bernama Robert Sasuwahe. Robert adalah kepala dusun Buyatpante, kecamatan Ratatotok, Minahasa Selatan. Sehari-harinya, Robert, bapak dari 9 anak itu, bekerja sebagai nelayan. Mengais rezeki dari Teluk Buyat.Wajahnya terlihat sedih ketika dia ditanya soal warga yang memilih meninggalkan dusun Buyatpante, beberapa saat setelah dugaan adanya pencemaran dari tailing (limbah) perusahaan penambang Emas PT Newmont Minahasa Raya (NMR). "Keluarga kami telah dibuat tercerai burai," tutur Robert.Matanya menerawang jauh di laut yang membiru. "Jangan pisahkan kami dari keluarga kami," katanya seperti meminta. Meminta? Entah kepada siapa.Dituturkan Robert, awalnya dusun Buyatpante dihuni 43 KK (309 jiwa). Namun, setelah meruaknya dugaan pencemaran, warga Buyatpante bukannya berkurang, tapi malah bertambah menjadi 68 KK. "Orang tak takut ada pencemaran. Mereka datang ke sini karena di sini banyak orang kasih sumbangan," kata Robert.Pemda Minahasa Selatan memberi bantuan 20 perahu motor ketinting. Duit Rp 350.000/KK dan beras 50 ton. Selama 3-4 bulan mereka dilarang melaut. "Orang orang yang mengaku dari LSM melarang kami memakai ketinting," kisah Robert. "Mungkin supaya kami ini tetap miskin," imbuhnya.Robert bahkan dulu menjadi koordinator lapangan (Korlap) aksi demo ke kantor gubernur Sulawesi Utara di Manado. Demo itu digelar untuk menuntut NMR yang dituding mencemari dan merusak Teluk Buyat. Robert akhirnya sampai pada kesadaran, kehidupan warga dusun Buyatpante tercerai berai. Penghasilan dari melaut turun drastis. "Sampai-sampai saya pulangkan anak istri ke Bitung," tuturnya.Robert kian tak yakin ada pencemaran. Isu pencemaran diyakininya justru menimbulkan kemiskinan. Ikan hasil melaut sempat tak laku dijual. "Kami bisa bisa mati. Bukan karena pencemaran tapi karena kelaparan," kata Robert.Pro dan kontrak warga Dusun Buyatpante kian meruyak. Robert tak lagi bersedia menjadi korlap. Ketika Pemda dan dibantu sejumlah LSM akan mengevakuasi warga, Robert merupakan salah seorang yang tidak setuju. "Hampir-hampir terjadi baku bunuh di sini. Padahal 50 persen warga di sini itu masih keluarga saya sendiri," kisah Robert.Toh puluhan KK pun, pada Juni 2005 akhirnya memilih pindah ke Dominango kabupaten Bolaang Mongondow, yang jauhnya sekitar 100 Km dari dusun Buyatpante. "Saya sempat dipukul oleh saudara saya ketika saya mencegah mereka," kata Robert. "Sebagian besar yang ikut dievakuasi itu masih keluarga saya," tutur lelaki asal Sangir itu.Kini, setahun setelah evakuasi itu, Robert dan warga (23 KK) yang memilih tinggal di Buyatpante, sudah kembali meniti kehidupan normal. Setiap pagi, menjelang subuh ia melaut. Pukul 08.00 Wita, dia sudah kembali mendarat. Menjual hasil ikannya ke pasar. Rata-rata Rp 100 ribu sehari dia kantongi. Toh demikian, ada yang senantiasa merisaukannya. "Kembalikan keluarga kami," pintanya. (bdi/)


Berita Terkait