Hikayat Rakyat Buyat (I)
Parabola Usai Heboh Minamata
Rabu, 06 Sep 2006 12:24 WIB
Jakarta - Sabtu (2/9/2006) sekitar pukul 11.00 Wita, terik matahari kemarau begitu menyengat. Dari kejauhan dusun Buyatpante terlihat sangat sepi. Lengang. Seolah tanpa kehidupan. Pohon-pohon meranggas tanpa daun. Kering.Semakin mendekati dusun, makin kuat pula bayangan akan sebuah dusun pesakitan. Terbayang di benak: orang-orang yang terkapar dirundung penyakit berkepanjangan. Anak anak kecil kurus kurang gizi. Tubuh-tubuh dipenuhi benjolan. Sebuah bayangan akan dasyatnya penyakit Minamata (keracunan Merkuri). Foto-foto korban Minamata, yang terpublikasi media, membuat siapa pun yang melihatnya bakal bergidik. Mengenaskan.Jika bayangan semacam itu demikian lekat di benak, haraplah maklum. Sebab, sejak 20 Juli 2004, Dusun Buyatpante, yang berada di Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara ini, mendadak sontak mendunia. Ini setelah dr Jane Pangemanan dan empat warga Buyatpante melaporkan PT Newmont Minahasa Raya (NMR) ke kepolisian. Perusahaan penambang emas ini dilaporkan karena telah melakukan kelalaian, dalam hal ini mencemari Teluk Buyat, yang kemudian menyebabkan kematian. Singkat cerita, aktivitas LSM menuding, tailing atau limbah (Arsenik dan metilmerkuri) NMR telah menjangkitkan Minamata di Minahasa. Dahsyat!Beberapa orang Buyatpante pun didatangkan ke Jakarta. Mereka tampil di depan para wartawan dan sorot kamera televisi. Beberapa warga kemudian dirawat di sejumlah RS. Puncaknya adalah kematian bayi Andini.Jane, dikemudian hari, tepatnya pada 14 Februari 2005, dalam sebuah jumpa pers, mencabut laporannya ke polisi. Jane menyatakan, tidak ada bukti yang cukup kuat yang mendukung tuduhan yang dibuatnya.Kijang yang kami naiki berhenti di depan sebuah rumah. Ketika pintu rumah itu terbuka, bayangan bakal menemukan para pesakitan pun sirna. Sebab, yang muncul justru beberapa anak-anak kecil berusia 4-6 tahun. Mereka begitu ceria. Ketika kamera dibidikkan, anak-anak itu pun sedikit bergaya, eksyen. Asyik."Di sini tidak ada orang sakit," kata seorang ibu yang melintas sembari menggandeng anaknya. "Kalau pusing dan batuk kan biasa, namanya juga musim kemarau," imbuh sang ibu itu dengan cuek.Penulis pun teringat hasil penelitian Prof dr Winsy F Th Waraow dari Departemen Dermologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado. Winsy meneliti kesehatan warga di sekitar area tailing tambang emas NMR dan memperbandingkan dengan warga di pantai sekitarnya. Hasilnya: tidak ada penderita penyakit yang menunjukkan gejala-gejala klasik keracunan arsenik.Penelitian Winsy diperkuat dengan hasil penelitian Prof Haryoto Kusnoputranto M.D, Dr.PH dari Pusat Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan, Universitas Indonesia. Dr Keith Bentley dari Centre for Environmental Health, Australia, juga sejalan dengan dua profesor di atas.Penulis kemudian mencoba menyusuri ke belasan rumah yang berdiri di pinggir pantai tersebut. Tak juga ditemui pesakitan. Di sebuah rumah kayu yang lumayan bagus, yang cukup menonjol malah sebuah antena parabola. Parabola itu bertengger di kiri rumah milik Hendrik Ponto. Kabel kabel melintang dari parabola itu ke rumah-rumah yang lain. "Berkat parabola itu sejak setahun lalu kami bisa nonton TV," kata Robert Sasuwahe, kepala dusun Buyatpante. "Kami rasanya menjadi lebih hidup sejak ada parabola itu," tambahnya.
(bdi/)











































