Penghentian Lumpur Lapindo Ala Penganut Kejawen

Penghentian Lumpur Lapindo Ala Penganut Kejawen

- detikNews
Selasa, 05 Sep 2006 16:42 WIB
Semarang - Bagi penganut aliran Kejawen di Semarang, penghentian semburan lumpur Lapindo tak memerlukan alat berat dan datang ke lokasi. Cukup bersujud (bersembahyang) dan tindakan mistik. Yakin? Sesuai wahyu atau wangsit yang diterima Tuntunan Aliran Sapta Darma, Mulyono (77), para penganut akan melakukan sujud di mana pun. Hal itu dilakukan selama tiga hari tiga malam dimulai pada tengah malam. Kalau pusat semburan sudah tertutup atas izin Yang Maha Agung, maka proses berikutnya adalah melakukan tumbal. "Sesuai dengan wahyu yang saya terima, kami bisa melakukannya (menghentikan lumpur Lapindo)," kata Mulyono ketika ditemui di rumahnya, Sanggar Candi Busana, Jalan Srinindito VII Kelurahan Ngemplak Simongan, Kec. Semarang Barat, Kota Semarang, Selasa (5/9/2006). Mulyono menyebutkan, tumbal yang dimaksud biasanya berupa kepala kerbau yang ditanam di lokasi. Namun ia tak menampik jika tumbalnya bukan kepala kerbau. Karena pemberian tumbal tergantung pada permintaan 'pelaku' semburan lumpur Lapindo. Dengan tumbal tersebut, para penganut Aliran Sapta Darma akan menyumbat pusat semburan lumpur agar tak keluar lagi. "Setelah berhasil menghentikan pusat semburan lumpur, kita baru melakukan ruwatan. Pada prosesi ini, kita akan meminta makhluk halus pergi dari kawasan lumpur Lapindo," jelas dia. Mulyono yang ditemani beberapa penganut Sapta Marga saat ditemui wartawan menyatakan, kawasan lumpur Lapindo 'dikuasai' beragam makhluk halus dengan berbagai ukuran. Ada yang kecil, ada pula yang sangat besar. Ketika ditanya apakah ia meminta imbalan seandainya lumpur Lapindo benar-benar bisa ditangani, Mulyono menyatakan tidak. "Kami hanya menjalankan wahyu. Tapi kalau ada sayembara seperti yang saya dengar melalui media massa, kami akan melakukan jika tak ada satu pun orang atau kelompok yang berhasil," paparnya. Menurut keterangan yang dihimpun detikcom, Aliran Kejawen Sapta Marga berdiri pada tahun 1954 setelah Panuntun Agung, Sri Gutama menerima wahyu di Pare, Kediri, Jawa Timur. Pusat aliran kepercayaan ini berada di Yogyakarta. Di Sanggar Candi Busana Semarang, jumlah anggotanya sekitar 30-an orang. (asy/)


Berita Terkait