Flu Burung Anjlokkan Produksi Ternak Sumut
Senin, 04 Sep 2006 23:03 WIB
Medan - Wabah flu burung yang melanda beberapa kabupaten dan kota di Sumatera Utara (sumut) tak hanya menyebabkan kepanikan. Produksi ternak di Sumut juga anjlok drastis.Wakil Kepala Dinas Peternakan Sumut Tetty Herlina Lubis menyebutkan, hingga periode Agustus 2006 virus ini sudah menyerang 16 dari 25 kabupaten dan kota di Sumut. Kalangan peternak mengalami kerugian yang cukup besar karena masalah ini."Dari 12 populasi ternak, hanya produksi sapi potong dan domba saja yang tidak turun. Selebihnya, berproduksi minus," kata Tetty di Medan, Senin (4/9/2006).Ke-16 daerah endemik flu burung itu masing-masing Deli Serdang, Binjai, Dairi, Medan, Tebing Tinggi, Langkat, Samosir, dan Serdang Bedagai.Selain itu Simalungun, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Mandailing Natal, HumbangHasundutan, dan Karo.Ditambahkan Tetty, produksi ternak ayam petelur merupakan yang terparah persentase penurunannya, yakni mencapai minus 16,6 persen jika dilihat dari produksi tahun 2004 sebesar 13.826.970 dibanding produksi tahun 2005 sebesar 6.190.175.Produksi ternak ayam pedaging juga menurun tajam dengan persentase minus 11,07 persen jika dilihat produksi tahun 2004 sebesar 38.045.260 ekor dibanding produksi tahun 2005 sebesar 35.568.236 ekor.Penurunan produksi ternak antara tahun 2004 dengan tahun 2005 juga terjadi pada sapi perah menjadi minus 0,41 persen, kerbau minus 0,39 persen, kuda minus 9,48 persen, kambing minus 4,68 persen, ayam buras minus 3,74 persen, dan itik minus 5,42 persen.Diakui Tetty, anjloknya produksi ternak akibat flu burung ini menyebabkan kinerja peternakan Sumut minus sepanjang tahun 2005."Kinerja seperti ini menggangu perekonomian Sumut baik dari pengusaha maupun peternak sendiri," tambahnya.Dikatakannya, dampak wabah flu burung juga menurunkan konsumsi produk peternakan. Tahun 2003 konsumsi daging untuk warga Sumut sebanyak 10,36 ton dan telur 13,37 ton.Namun hingga Desember 2005, konsumsi daging menurun menjadi 9,20 ton (minus 5,14 persen) dan konsumsi telur turun menjadi 5,56 ton (minus 16,68 persen)."Hanya konsumsi susu (dari sapi perah) saja yang stabil. Karena sterilisasi sudah berlangsung baik," demikian beber Tetty Herlina Lubis.
(fjr/)











































