Demo Korban Lumpur Lapindo Diwarnai Lempar Batu
Senin, 04 Sep 2006 10:31 WIB
Sidoarjo - Buk...buk...buk...! Puluhan batu dilemparkan ratusan korban lumpur Lapindo ke arah aparat saat melakukan demo di pendopo Kabupaten Sidoarjo. Kemarahan warga tidak terbendung.Lemparan sebuah batu mengawali aksi warga dari Desa Permisan, Desa Glagah Arum, Desa Besuki, dan Desa Kebo Guyang, yang digelar diJalan Cokronegoro, Senin (4/9/2006) pukul 09.30 WIB.Nah, batu pertama yang dilempar seorang warga mendarat mengenai salah seorang aparat. Akibatnya, darah mengucur dari bawah mata dan aparat itu langsung diberikan pertolongan.Tidak terima rekannya menjadi korban, seratus aparat yang dilengkapi tameng dan tongkat pun langsung merangsek maju dan memukul warga dengan tongkat.Melihat warga yang berada di barisan depan dipukuli aparat, warga pun mundur dan yang berada di belakang pun membabi buta melempari aparat dengan batu. Buk...buk...buk...! Batu-batu sebesar kepalan tangan pun bersliweran di atas kepala.Dihujani batu, aparat juga berbalik mundur. Rupanya tidak hanya aparat yang menjadi korban. Salah seorang wartawan pun sempat terkena lemparan batu. Bahkan, pewarta foto yang hendak mengabadikan peristiwa itu diancam akan dilempari batu."Turun! Kalau tidak kita lempar," ancam warga.Melihat gelagat itu, seorang polisi memberikan peringatan dan menenangkan warga yang marah. "Sampai terjadi anarkis lagi kami tidak segen segan membubarkan anda dengan paksa," kata salah seorang polisi memberi peringatan.Atas peringatan itu, warga menahan diri dan beberapa perwakilannya masuk ke pendopo untuk bernegosiasi dengan Bupati Sidoarjo Win Hendrarso dan perwakilan dari Lapindo.Luapan kemarahan dilontarkan warga karena lumpur Lapindo telah meluas ke desa mereka. "Ayo Lapindo bertanggung jawab. Jangan sengsarakan rakyat," teriak salah seorang warga.Hingga pukul 10.00 WIB, warga masih menunggu kedatangan bupati dan masih melakukan orasi-orasi yang berisi meminta Lapindo bertanggung jawab atas kerugian yang dialami warga dan meminta Lapindo membeli lahan milik warga, bukan menyewanya.
(aan/)











































