Sinta Gus Dur Janji Bantu Warga Kompleks Siliwangi Temui SBY
Jumat, 01 Sep 2006 15:13 WIB
Jakarta - Meski telah lebih 20 tahun, warga kompleks pejuang Siliwangi yang menjadi korban penggusuran tak putus asa. Mereka mendatangi kediaman Sinta Nuriyah, istri Gus Dur, untuk meminta dukungan.Kedatangan warga Kompleks Siliwangi yang terletak di Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, ini tidak sia-sia. Sinta Nuriyah bersedia membantu warga kompleks Siliwangi bertemu Presiden SBY."Saya akan membantu sebisa mungkin. Di istana kan ada Yenny (putrinya), nanti akan saya usahakan lewat dia. Siapa tahu bisa menghubungi SBY," kata Sinta ketika menerima rombongan warga Kompleks Siliwangi di kediamannya, Jl Warung Sila V, Ciganjur, Jakarta, Jumat (1/9/2006).Sinta yang saat itu mengenakan baju berwarna biru gelap mengaku prihatin dengan nasib warga kompleks Siliwangi. Sebagai mantan pejuang kemerdekaan, mereka tidak mendapat penghargaan yang layak dari pemerintah. "Ini sangat memprihatinkan, karena para pejuang kemerdekaan yang sempat bergerilya juga tidak mendapat penghargaan yang berarti," ungkap ibu empat putri ini.Beralih GenerasiWarga Kompleks Siliwangi mengaku nasib mereka kian tidak pasti. Padahal mereka sudah berjuang cukup lama untuk mendapatkan ganti rugi yang layak."Kami telah lama berjuang, sudah dua generasi dan sudah gonta-ganti presiden, tapi nasib kami belum jelas," kata koordinotar warga Kompleks Siliwangi, Robert Sitorus. Menurut Robert, kedatangan mereka untuk meminta dukungan politis kepada Sinta Nuriyah. Sebab segala upaya hukum yang mereka lakukan tak juga membuahkan hasil yang menggembirakan."Kesanggupan Ibu Sinta adalah dukungan moril bagi kami untuk terus melanjutkan perjuangan sampai gugatan kami terpenuhi," ungkap Robert.Penggusuran terhadap Kompleks Siliwangi sudah terjadi beberapa kali. Pertama kali dilakukan pada tahun 1984. Dari sekitar 300 Kepala Keluarga (KK) yang ada, kini tinggal belasan yang masih bertahan. Mereka menuntut harga ganti rugi sesuai dengan Nilai Jual obyek Pajak (NJOP) yang berlaku, yakni Rp 5,5 juta per meter.
(djo/)











































