Amien Rais: Ada Reshuffle, Bukti Pimpinan Negara Labil
Kamis, 31 Agu 2006 17:35 WIB
Jakarta - Wacana reshuffle kabinet yang kini mengemuka mendapat sorotan tajam dari mantan Ketua MPR Amien Rais. Dia menilai, jika ada reshuffle kabinet lagi menunjukkan pimpinan negara ini dalam keadaan labil.Demikian disampaikan oleh Amien Rais usai acara diskusi "Tolak Pidanakan Jurnalis Ungkap Korupsi," di Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya, Jakarta, Kamis (31/8/2006)."Menurut saya kalau sampai di-reshuffle tahun kedua, itu citra pemerintahan SBY menjadi carut-marut karena sudah dua tahun di-reshuffle. Itu artinya kabinet tidak stabil dan betul-betul pemimpinnya labil. Ini dampaknya luar biasa," jelas Amien.Selain citra pemerintah akan jatuh, lanjut dia, para menterinya juga akan berhenti di tengah jalan. Sementara menteri yang baru masih harus belajar dengan lingkungan barunya. "Kalau setiap kali diisukan reshuffle, para menterinya juga bekerja tidak nyaman dan menjadi setengah hati saja," tandasnya.Menurut Amien Rais, jika suatu kabinet tidak berhasil, maka letak kesalahanya 70 persen dipikul pemimpinnya dan 30 persen oleh anggotanya. Dia mencontohkan kalau di sebuah sekolah ada murid yang memble atau gagal, maka 70 persen karena gurunya tidak berhasil mengajarkan yang baik."Saya kira Pak SBY lebih tahu soal itu karena dia juga militer. Dia tahu tidak ada prajurit yang salah tapi komandannya. Menurut saya ini bukan karena menterinya tapi pada pengarahan atau kepemimpinan yang ngalor ngidul yang membuat menterinya bimbang," tandas mantan Ketua PP Muhammadiyah itu.Amien Rais juga mengimbau agar kedua pucuk pimpinan negara yakni Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla untuk berhenti saling cakar demi kepentingan Pemilu 2009."Kalau Pak SBY dan Pak Kalla sampai tidak kompak apalagi hanya memikirkan 2009, bangsa ini celaka karena yang dipikirkan untuk menang 2009. Itu tidak etis dan tidak masuk akal," cetus guru besar ilmu politik UGM Yogyakarta itu.
(san/)











































