Dokter RSUD Bekasi dan RS Haji Dilaporkan ke Polda Metro

Dokter RSUD Bekasi dan RS Haji Dilaporkan ke Polda Metro

- detikNews
Selasa, 29 Agu 2006 14:35 WIB
Jakarta - Kasus dugaan malpraktek kembali dilaporkan LBH Kesehatan ke polisi. Kali ini menyangkut nasib yang menimpa Estiana (34), pasien RSUD Bekasi, dan Kestuti (56), pasien RS Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. 3 Dokter di rumah sakit tersebut diduga telah membahayakan jiwa Estiana dan Kestuti.Ketiga dokter tersebut adalah dokter Anto dan dokter Irawan dari RSUD Bekasi yang menangani Estiana dan dokter Bagoes Soesilo yang menangani Kestuti di RS Haji. Saat melapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian Polda Metro Jaya di Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, pukul 11.30 WIB, Selasa (29/8/2006), kedua korban didampingi kuasa hukumnya dari LBH Kesehatan, Nia Yuniarsih.Dari laporan yang disampaikan Estiana, pada 14 Agustus 2006 ia datang ke RSUD Bekasi untuk USG kandungannya yang berusia 6 bulan. Saat itu diketahui janinnya telah meninggal. Namun tidak ada tindakan operasi untuk mengeluarkan janin.Estiana hanya dikasih obat untuk mengeluarkan janin. Itu pun baru diberikan pada tanggal 16 Agustus. Esti diminta meminum obat tersebut 2 kali sehari selama 6 hari berturut-turut.Pada 22 Agustus 2006, Esti kembali kontrol. Saat itu dijelaskan ia belum bisa melahirkan dan disuruh membeli alat dari kayu untuk membuka mulut rahim. Setelah tindakan pemasangan alat, dia disuntik alat perangsang guna mengeluarkan bayi. Namun bayi tidak juga keluar, malah terjadi pendarahan hebat. Kondisi tersebut membuat Esti lemas dan sempat muntah-muntah karena tidak tahan dengan pendarahan yang dideritanya. Pukul 02.00 WIB dinihari ia lalu dibawa ke RSCM untuk mengeluarkan janin laki-lakinya.Esti yang sudah mengeluarkan biaya Rp 4 juta menyesali tindakan dokter yang tidak melakukan tindak operasi kendati sejak awal sudah tahu janinnya meninggal di dalam kandungan.Tiga Kali OperasiKejadian berbeda menimpa Kestuti di RS Haji. Kestuti justru berulang kali dioperasi di RS Haji Pondok Gede karena kelalaian dokter Bagoes Soesilo.Awalnya Kestuti mengeluhkan sakit pinggang. Pada 12 Desember 2005, Kestuti yang bekerja di RS Haji bagian Poli Jantung itu kemudian memeriksakan diri ke dokter Bagoes. Dari pemeriksaan diketahui ada batu empedu. Akhirnya pada 19 Desember, batu empedu tersebut dioperasi. Kestuti kemudian diperbolehkan pulang setelah 4 hari dalam perawatan. Namun pada 24 Desember ia merasa perutnya tidak nyaman. Baru makan sebutir telur, 3 sendok bubur, dan segelas air putih, ia merasa perutnya sudah penuh.Pada 28 Desember, ia melakukan kontrol lagi. Saat itu kondisi perutnya memprihatinkan karena membengkak seperti orang hamil. Saat itu dokter Bagoes mengatakan, kondisinya baik-baik saja dan tidak ada apa-apa. Ia kemudian disuruh pulang dan tidak dikasih obat. Namun kondisinya tidak juga membaik, ia merasa perutnya tidak enak.Untuk meyakinkan dirinya, pada 31 Desember ia ke rumah sakit lagi. Saat itu ia diperiksa oleh dokter Eva yang kaget melihat kondisinya. Kestuti lalu dianjurkan ke UGD untuk di-USG.Saat itu ia disarankan untuk operasi karena ada perembesan usus. Pada 3 Januari 2006, operasi yang kedua dilakukan oleh dokter Bagoes. Saat itu, aku Kestuti, ia memang tidak konsultasi terlebih dahulu dengan keluarganya. Saat operasi kedua itu diketahui ada cairan sebanyak 4,5 liter di perutnya. Saat itu dokter tidak memberitahu warna cairannya. Namun operasi kedua ini tidak mengurangi penderitaannya. Perutnya masih saja membesar dan tidak ada perubahan hingga tanggal 20 Januari. Ia kemudian datang lagi ke RS Haji dan pada 1 Februari dioperasi lagi dengan mendatangkan tim dokter dari RSCM. Setelah operasi ketiga ini, kondisinya berangsur normal karena ususnya yang bermasalah sempat dipotong.Saat operasi pertama dan kedua, Kestuti tidak diberi rincian biaya oleh rumah sakit. Rincian operasi baru diberikan setelah operasi ketiga yang jumlahnya sekitar Rp 100 juta. Karena tidak mampu, uang pensiunnya sekitar Rp 15 juta ditahan pihak rumah sakit. (umi/)


Berita Terkait