Kolom
Kebohongan Berkuasa
Selasa, 29 Agu 2006 05:56 WIB
Den Haag - Jika bangsa ini tahu orang macam apa para pejabat negara itu, pasti akan memberontak dan menggantung mereka semuanya.Adalah negarawan Inggris, John Bright (1811-1889), yang mengatakannya. Bright menyaksikan kelakuan para pejabat negara di masanya yang mencapai titik nadir derajat tercela. Warga Bantul, korban gempa Mei lalu, bisa menemui kebenaran teks Bright itu.Saya baru kembali dari liburan di tanah air. Salah satu agenda saya adalah ziarah ke para korban gempa di Bantul, sekaligus menengok rumah di Krapyak yang menurut Pak RT bagian dapurnya sedikit rusak, namun bangunan utamanya tetap utuh. Alhamdulillah.Dari sekian trauma warga di sana, yang paling menyolok adalah hancurnya kepercayaan kepada para pejabat negara. Sakit hati mereka melebihi sakitnya patah tulang terbuka. Ini terutama teralamat kepada Wapres Kalla, yang dijuluki: The 30 Million Rupiah Man, memplesetkan tokoh The Six Million Dollar Man, yang diangkat dari novel Cyborg karya Martin Caidin.Wapres telah menjanjikan bantuan Rp 30 juta kepada para korban. Apakah sudah ditepati? "Kami akan tetap menagih janji itu hingga ke mahkamah tertinggi di akhirat," ujar seorang warga bernada dendam campur putus asa. Kasihan. Tiga bulan telah lewat, beban penderitaan mereka bukan terpecahkan, tapi malah seolah-olah dilupakan.Mengapa tidak dirancang kebijakan berupa pemberian pinjaman kemanusiaan berjangka panjang, misalnya 30 tahun? Dengan pinjaman ini korban dapat mendirikan gubuk rapat, terlindungi dari terpapar dinginnya angin hujan, dan kehidupan bisa kembali terstruktur, terutama anak-anak yang masih sekolah. Konstruksi seperti ini asal nyata, tidak akan menyakitkan mereka daripada kebohongan-kebohongan. Tapi nampaknya para pejabat negara itu memang sudah terbiasa mengelola politik dan kekuasaan dengan berbohong. "De leugens regeert, kebohongan berkuasa," kata Ratu Beatrix di depan Asosiasi Redaktur Belanda suatu ketika. Kebohongan menjadi andalan mirip C4H8O3 (baca: Gammahydroxybutyrat), yang membius dan melumpuhkan saraf kesadaran. Berangkat meraih kekuasaan dengan bekal kebohongan dan memeliharanya dengan kebohongan pula.Dalam pidato kenegaraan yang seharusnya sangat terpercaya, ternyata para pejabat negara itu berbohong pula. Data tentang kemiskinan dipakai yang kadaluarsa. Sialnya, ini lagi-lagi mengait Wapres Kalla. Ia berdalih itu data BPS dan data BPS itu sepenuhnya ada. Kalla agaknya perlu dikado buku klasik How To Lie With Statistics, Darrell Huff (1954). Belakangan, di hari-hari seusai pidato, kebohongan data yang tak menggambarkan keadaan sekarang itu terkupas tuntas di media. Mark Twain sendiri sudah mengingatkan, There are three kinds of lies: lies, damn lies, and statistics!.Ada satu kebohongan yang krusial, yakni kebohongan pejabat negara mengenai surat Sri Paus terkait eksekusi Tibo cs. Mengapa tidak dari awal jujur saja bahwa pemerintah menerima surat dari Sri Paus dan memutuskan eksekusi belum bisa dilaksanakan? Pilihan berbohong bahwa eksekusi ditunda karena alasan teknis mau menghadapi perayaan HUT RI malah menyisakan tagihan, sebab 17 Agustus kini sudah lewat. Apa yang akan terjadi sesudahnya?
(es/)











































