Pemerintah Mulai Lobi DPR Soal Impor Beras

Pemerintah Mulai Lobi DPR Soal Impor Beras

- detikNews
Jumat, 25 Agu 2006 17:26 WIB
Jakarta - Musim konsumsi beras tertinggi nasional diperkirakan akan jatuh pada September dan Oktober. Pemerintah pun berencana mengimpor beras untuk menyediakan stok nasional.Dalam rangka meloloskan rencana itu, pemerintah mengundang para pimpinan fraksi dalam pertemuan sosialisasi rencana impor beras di Hotel Dharmawangsa, Jumat 25 Agustus pukul 19.30 WIB."Nanti malam ada sosialisasi kebijakan perberasan nasional. Mungkin salah satunya impor beras, karena berita minggu-minggu ini pemerintah akan buka kran impor beras," kata Ketua Komisi IV Yusuf Faishal di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (25/8/2006).Menurut Yusuf, hadir dalam acara ini Menko Perekonomian Boediono, Menteri Pertanian Anton Apriantono, Menko Kesra Aburizal Bakrie, dan Menhub Hatta Rajasa. Mereka akan hadir dalam kapasitas sebagai pengundang.Didesak apakah pertemuan itu bentuk lobi, Yusuf menyatakan, hanya sekadar sosialisasi karena pembahasan rencana ini belum bisa dilakukan di DPR."Ya sosialisasi saja rencana itu karena DPR pada 30 Agustus sudah ada kebijakan perberasan, padahal 1 September paling cepat kita lakukan sidang," terangnya.Disinggung soal sikap dia terkait rencana impor beras apakah Komisi IV akan menyetujui, Yusuf menjawab, dalam pertemuan itu akan diklarifikasi data-data yang menjadi impor beras agar tidak terjadi kesimpangsiuran seperti pada impor beras sebelumnya yang menjadi bola politik."Ya kita harus coba mengkonsolidasikan dulu karena data berbagai pihak belum sinkron. Mentan masih optimistis bisa memenuhi kebutuhan nasional tapi kenapa ada impor beras," tanya Yusuf.Yusuf meminta pemerintah serius menindaklanjuti program revitalisasi pertanian karena selama dua tahun setelah diputuskan, tidak terlihat kemajuan program tersebut."Infrastruktur pertanian sekarang banyak yang rusak karena tidak terawat sehingga tidak produktif. APBN harus difokuskan untuk program ini, tidak usah yang umum. Paling tidak beras, jagung dan kedelai," ujarnya. (san/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads