Kraton Yogyakarta Gelar Labuhan Alit di Parangkusumo
Jumat, 25 Agu 2006 13:11 WIB
Bantul - Memperingati bertahtanya Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai raja di Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat, Kraton Yogyakarta menggelar upacara labuhan alit di Parangkusumo, kawasan Parangtritis, Bantul. Seperangkat pakaian milik Sultan, potongan, rambut dan sesaji lainnya dlarung ke laut selatan.Prosesi ini dimulai pukul 09.00 WIB, Jumat (25/8/2006) dari pendopo Kecamatan Kretek yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Parangkusumo. Dari kantor kecamatan, aneka sesaji kemudia dibawa menuju Parangkusumo untuk dilakukan upacara serah terima dari utusan kraton yang diwakili para abdi dalem Punokawan kepada juru kunci Raden Penewu (RP) Suraksotarwono di pendopo sebelah barat Cepuri Parangkusumo.Setelah serah terima, satu persatu ubo rampe labuhan alit diturunkan dan dibuka dari tandu dan dicek apakah sudah lengkap atau belum. Ubo rampe yang dilabuh meliputi seperangkat pakaian wanita lengkap, seperangkat pakaian milik Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta kain mori, potongan rambut, potongan kuku dan sejumlah sesaji seperti bunga setaman, kemenyan, minyak wangi, daun sirih, aneka jajan pasar.Salah seorang abdi dalem membuka bungkusan, kemudian menunjukkan dengan mengangkat satu persatu. Para abdi dalem dan peserta labuhan langsung menanggapinya."Meniko wonten (ini ada-red) sinjang cangkring, semekan gadhung mlati, semekan mekar, leres para sedherek," kata salah seorang abdi dalem. "Leres (betul-red)," jawab abdi dalem lainnya serempak.Setelah selesai, abdi dalem beserta ubo rampe labuhan yang sudah dipindah ke tiga buah jodhang dari bambu kemudian dibawa menuju Cepuri Parangkusumo atau pintu masuk Kraton laut selatan. Di tempat itu, juru kunci RP Suraksotarwono memohon izin untuk memulai prosesi labuhan dengan menabuhkan di bunga, minyak wangi dan membakar kemenyan di dua buah batu hitam yang ada di cepuri. Di salah satu sudut cepuri yakni di sisi barat laut, seperangkat pakaian bekas milik Sultan beserta potongan rambut dan kuku ditanam. Sedang seperangkat pakaian wanita beserta sesaji lengkap siap dilarung sebagai persembakan kepada penguasa laut selatan.Seusai memanjatkan doa, prosesi dilanjutkan dengan arak-arakan menuju pinggir laut. Di tempat itu Suraksotarwono kembali membakar kemenyan sebagai pertanda dimulainya labuhan. Setelah itu, semua dilarung ke laut oleh tim SAR Parangtritis. Namun belum sempat semua ubo rampe itu dihanyutkan ke laut sudah keburu dirayah warga yang ngalap berkah. Mereka rela sekujur badanya basah kuyup terkena ombak.Seusai acara, Suraksotarwono kepada wartawan mengatakan, upacara labuhan alit setiap tahun yang jatuh tiap tanggal 30 Rajab itu untuk memperingati bertahtanya Sri Sultan HB X. Berbagai sesaji yang dilarung sebagai bentuk permohonan untuk mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan. "Kita berdoa agar Sultan, kraton beserta warga Yogyakarta seluruhnya diberi keselamatan di jauhkan dari berbagai bencana," katanya.Selain labuhan di Parangkusumo, Sabtu (26/8/2006) dinihari akan dilakukan labuhan di puncak Merapi di pintu gerbang Srimanganti yakni di Pos 2 atau di Pos Rudal. Prosesi labuhan di Merapi akan dipimpin langsung RP Suraksohargo atau lebih dikenal dengan nama Mbah Marijan diawali dari rumah beliau di Kinahrejo Desa Umbuharjo Kecamatan Cangkringan Sleman.Mulai Jumat sore ini akan dilakukan prosesi serah terima ubo rampe labuhan di kantor Kecamatan Cangkringan dari utusan Kraton. Selanjutnya dari kecamatan dibawa menuju rumah juru kunci Merapi untuk disemayamkan.
(nrl/)










































