Dhemit Sekolah Diarak di Yogya
Rabu, 23 Agu 2006 11:37 WIB
Yogyakarta - Puluhan warga Yogyakarta menggelar aksi keprihatinan pendidikan dengan cara mengarak dhemit (hantu) sekolah. Aksi yang tergabung dalam jaringan advokasi pendidikan gratis itu menuntut agar siswa dibebaskan dari segala pungutan dan dibubarkannya Komite Sekolah.Aksi Rabu (23/8/2006) ini dimulai pukul 10.00 WIB dari Alun-alun Utara Yogyakarta menuju gedung DPRD DIY di Jl Malioboro. Aksi yang disebut "Ngarak Dhemit Sekolah" itu cukup menarik perhatian warga Yogyakarta karena massa membawa boneka dari jerami yang dibuat menyerupai hantu sawah untuk menakut-nakuti burung. Satu kelompok kesenian kuda lumping juga turut serta dalam aksi itu.Hantu-hantu sawah itu oleh peserta dikalungi beberapa tulisan antara lain, komite sekolah busuk, sekolah vampir, setan pendidikan, komite sekolah = tukang stempel, sekolah komersiil dan lain-lain. Sebuah spanduk sepanjang 6 meter dibentangkan di depan barisan bertulisan "Ngarak Dhemit Sekolah, Advoksi Pendidikan Gratis."Koordinator aksi Sigit Nur Arifin saat berorasi di simpang empat Kantor Pos Besar Yogyakarta mengatakan, Solidaritas Pelajar Peduli Orangtua (Sappurata), Forum LSM DIY, LBH Yogya, Forum Kontak Orangtua Siswa (Fokus) Kulonprogo, Forum Komuniksi Orangtua Siswa Penuli Pendidikan (FKOP) Kota Yogyakarta menyatakan prihatin atas maraknya berbagai pungutan yang dilakukan di sekolah negeri. Pungutan itu misalnya uang geung, uang seragam dan perlengkapan sekolah dengan harga yang sudah di-mark up."Karena itu, kami menuntut pungutan-pungutan yang telah ditarik sekolah untuk dikembalikan kepada siswa," katanya.Menurut Sigit, pungutan yang dilakukan saat siswa mendaftar ulang itu sangat memberatkan orangtua/wali murid itu justru dibenarkan oleh Komite Sekolah. Panitia penerimaan sekolah melakukan berbagai mark up, tapi baik kepala sekolah dan komite sekolah justru tutup mata. "Dengan kata lain, komite sekolah seperti tukang stempel saja, kami menuntut lebih baik Komite Sekolah dibubarkan," tegas Sigit.Dia mengimbau agara seluruh orangtua/wali murid untuk berani melakukan kritik atau menolak pihak sekolah yang menarik biaya tinggi tanpa dilandasi asas manfaat dan tanpa melihat kondisi ekonomi masing-masing wali murid. Pihaknya juga meminta kepada DPRD DIY untuk membuat aturan baik melalui perda dan peraturan gubernur yang mengatur tentang standardisasi pungutan biaya sekolah.Dia menambahkan, karena somasi yang dilakukan bersama LBH Yogyakarta tidak dihiraukan, pihaknya memutuskan untuk melaporkan beberapa sekolah ke Polda DIY karena ada dugaan melakukan mark up pembelanjaan untuk pengadaan seragam sekolah.Usai berorasi, massa kemudian melanjutkan aksi dengan longmarch menuju gedung DPRD DIY melewati Jl Senopati, Jl Suryotomo, Jl Mataram dan Jl Malioboro. Saat berlangsung, aksi tidak dilakukan penjagaan ketat oleh petugas. Polisi hanya berjaga-jaga di sekitar persimpangan jalan yang sangat ramai siang itu.Foto: Pendemo mengarak dhemit sekolah
(nrl/)











































